Friday, October 26, 2012

Connected By Light

I wonder if Rita is looking at this same moon, at this same moment. I like that. Connected by light. The Dark Passenger has been fighting against it, to keep me all to himself. But it is my turn now, to get what I want. To embrace my family. And maybe one day not so long from now, I’ll be rid of the Dark Passenger. Life doesn’t have to be perfect, it just has to be lived.
(Dexter, season 4, "The Getaway")

Kutipan di atas dinarasikan oleh Dexter sesaat setelah dia membuang potongan-potongan tubuh Trinity, seorang serial killer lainnya. Saya tersentuh ketika mendengar Dexter, seorang pembunuh berencana, berbicara seperti itu. Bahkan, saya ikutan merasa sedih ketika menyaksikan ekspresi Dexter setelah melihat Rita mati di bath tub.




Sudah lihat video di atas? Sedih ya? Shocking. Tidak menyangka bahwa ending-nya harus seperti itu. Di saat Dexter baru mau mulai terbuka tentang Dark Passenger terhadap Rita, eh Rita-nya dibuat mati. By the way, sebenarnya saya tidak kaget-kaget amat sih pas Rita meninggal. Soalnya sudah tahu akhirnya bakal begitu. Thanks to Wikipedia. Hihihi...

Saya pun jadi kasihan dengan Dexter. Dia pulang ke rumahnya dan harus mendapati kenyataan istrinya (diduga) dibunuh oleh Trinity justru setelah Dexter memutilasi Trinity dan membuang potongan jasadnya di entah-sungai-apa-itu-namanya-saya-lupa.

Saya masuk ke kamar dengan melangkah gontai sambil bertanya-tanya kenapa Rita harus diakhiri perannya? Kan kasihan Dexter. Dia tidak punya pegangan lagi untuk tetap "normal". Bukan tidak mungkin kan kalau Rita tetap dibikin hidup Dexter bisa sembuh dari dorongan untuk membunuh. Tapi, semakin dipikirkan saya jadi semakin bingung. Bingungnya begini... Apa iya seorang psikopat bisa sembuh betul? Coba kalian tonton lagi video di atas dan dengarkan baik-baik narasi Dexter di akhir. Dexter bilang begini:

Born in blood, both of us. Harry was right. I thought I could change what I am, keep my family safe. But it doesn’t matter what I do, what I choose. I’m what’s wrong. This is fate.

Tuh, Dexter saja mengakui bahwa dia tidak bisa menyangkal bahwa begitulah dia adanya. 

Dan juga kenapa saya bisa menaruh simpati ke seorang pembunuh berantai? Iya ya, kenapa coba?

Padahal ya dari buku The Psycopath Test yang sudah pernah saya baca, pembunuh berantai itu pasti seorang psikopat. Dan seorang psikopat itu sudah pasti tidak menunjukkan penyesalan. Dia juga manipulatif. Tetapi, di akhir episode "The Getaway", Dexter terlihat sedih, kaget, bingung ketika dia melihat Rita sudah terbujur kaku.

Coba seandainya Dexter ini benar ada orangnya di sekitar saya. Apa iya saya masih bisa menaruh simpati untuk dia? Jangan-jangan saya malah tidak mau dekat-dekat dia karena ketakutan. Yah, meskipun dia membatasi dirinya hanya membunuh penjahat, tapi kan teteup deh... Menyeramkan. Apalagi melihat ekspresinya setelah membunuh itu. Ada perasaan lega, bahagia, ish... It's freaking horror. 

Penggemar: Yaelah, Kim. Namanya juga serial televisi. Fiksi. Tokoh utamanya dibikin sedemikian rupa supaya kita kasihan ke Dexter.

Ehm... Benar juga. Ini serial televisi. Ini fiksi. Apalagi pemeran utamanya ganteng, gagah, dan macho begitu. Ya wajar sih kalau saya jadi simpati. Jarang-jarang kan seorang tokoh utama dalam sebuah cerita fiksi dibikin mengesalkan sampai-sampai membuat kita benci ke tokoh utamanya? Lihat saja Dexter. Meski dia seorang pembunuh berantai tapi dia ganteng, gagah, dan macho. Pintar pula. Blood-spatter analyst pun. A family man. Dan dia berusaha keras sekali untuk bisa berekspresi. Dia memakai topeng agar terlihat punya emosi untuk bisa sedih, senang, jatuh cinta. Wanita mana coba yang tidak jatuh cinta dengan Dexter, terlepas dari kenyataan bahwa dia seorang pembunuh berantai? Pasti ada wanita di luar sana yang menghargai usaha Dexter untuk punya emosi dan mengekspresikan emosinya dan jadi jatuh cinta karenanya.

Padahal kalau mau jujur, Dexter pakai "topeng" untuk mengekspresikan emosi yang sebenarnya dia sendiri tidak punya. Salah satu item dari Hare Psycopathy List kan ada yang namanya lack of remorse dan shallow effect. Tapi, okelah. Saya tidak mau merusak kebahagiaan para penggemar Dexter. Hihihihi...

Itu mungkin alasan pertama kenapa saya bisa simpati terhadap Dexter, yaitu karena penulis cerita serial ini berhasil membuat Dexter menjadi tokoh utama yang charming. Alasan kedua adalah mungkin karena siapa yang menjadi target Dexter untuk dibunuhnya. Mereka semua adalah seorang penjahat (terkecuali yang Dexter salah bunuh lho ya). Jadi, semacam ada justifikasi di sana. 

"Ah, yang dibunuh Dexter kan orang-orang jahat yang tidak tersentuh hukum."
"Ish, biarin aja Dexter membunuh orang-orang jahat itu. Dunia kan jadi lebih aman tanpa orang-orang jahat itu."

Jujur deh, saya juga sempat berpikir seperti itu. Kalau sudah berbicara seperti itu, kita jadi membahas moral. Perbuatan Dexter itu benar atau tidak. Membunuh penjahat untuk melindungi orang-orang tidak bersalah dan mencegah penjahat itu untuk melakukan tindakan kejahatan lainnya. Duh, kok jadi filosofi banget sih. Bukan ranah saya ini mah. Bingung euy kalau sudah bahas terkait filsafat mah. Hihihihi... *kibar-kibar bendera putih*

Ya sudah. Itu saja sih yang mau saya ungkapkan di sini. Uneg-uneg saya setelah menonton episode terakhir di season 4 Rabu malam kemarin. Kasihan yah saya baru nonton Dexter. Dexter-nya sendiri sekarang sudah season berapa coba. Huh. 

Penggemar: Gak update banget sih lo, Kim.

Biarin. :P 

Tetapi, sebenarnya yang paling utama yang ingin saya sampaikan adalah saya sangat terkesan dengan kutipan di awal tulisan ini, terutama di bagian: 

I wonder if Rita is looking at this same moon, at this same moment. I like that. Connected by light.

Dan dibalas Rita lewat pesan suara di ponsel Dexter:

...Oh, and I know that you're not into this stuff, but the moon tonight is gonna be amazing. So take a moment. You deserve it. We love you. Bye.

Oh, it's so romantic! <3

Langsung saja saya jadi teringat si ehem ehem *uhuk uhuk*.

Hey, you. I wonder if you're looking at this same moon, at this same moment. I like that. Connected by light. 


2 comments:

  1. wekeke, aku nonton dexter ini tahun lalu kyk'a,
    aku bnr2 shock pas Ritanya mati sekaligus merinding..

    aku nntn dexter ini gujuk2 udah season 4 jadi sempet rada bingung, hahaha..

    tapi kalau ada orang psikopat gitu di dekat aku sih kyk'a mending ngacir, ngeri juga..

    ReplyDelete
  2. @ BlogSpot Design
    Saya juga nonton Dexter ini lompat-lompat. Tidak runut dari awal season 1 sampai akhir season 4. Mudah-mudahan sih untuk season berikutnya bisa rutin mengikuti. :D

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;