Saturday, March 5, 2016

Journey: Aplikasi Jurnal Keren

Siapa di antara teman-teman yang masih rajin menulis jurnal? Selamat untuk teman-teman yang masih rajin menulis jurnal ya. Saya sendiri masih bolong-bolong. Kalau lagi rajin, ya rajin banget. Tapi, kalau lagi malas ya malas banget. Satu buku bisa untuk dua tahun atau lebih hanya karena jarang diisi. Padahal kalau rajin ditulis, satu buku itu bisa buat satu bulan, bahkan mungkin kurang (kalau menulisnya bercerita panjang lebar).

Nah, awal tahun 2016 ini saya bikin janji ke diri sendiri pengen lebih rajin menulis jurnal dan menulis di blog juga. Niatnya begitu. Sayangnya, buku harian saya dari awal tahun sampai sekarang belum banyak diisi. Padahal buku harian saya itu sudah setahun lebih lho usianya, tapi sampai sekarang belum habis saya tulis.


Memang sih sekarang saya semakin malas menulis tangan. Lebih cepat capek dan pegal, apalagi kalau mau cerita panjang lebar. Membayangkannya saja saya sudah malas. Jadinya saya singkat saja ceritanya. Saya tulis pendek. Malah jadinya kurang menarik pas saya baca ulang. Kayak yang, “Ih, gue gak niat banget sih nulisnya. Ini cerita gue yang mana ya? Pas kapan ya?” Kan sayang kalau sudah begitu. Padahal salah satu alasan saya menulis jurnal kan untuk mencatat—to record—apa saja yang terjadi di dalam hidup saya. Kalau menulis saja sudah tidak niat begitu, bagaimana saya bisa mencatat sejarah hidup saya dengan baik? Iya kan?

Untuk menyiasatinya, saya pindah ke aplikasi jurnal di Android. Om Galesh merekomendasikan Journey ke saya. Setelah mencoba selama lebih dari satu bulan, saya suka banget sama Journey! Banyak banget alasan yang bikin saya suka sama Journey, diantaranya:

  • Gratis! Kalau mau beli, juga bisa. Fiturnya lebih lengkap memang ketimbang yang gratisan. Tapi, yang versi gratisan juga sudah oke banget kok! Nanti kalau saya sudah punya kartu kredit, saya bakal beli yang versi berbayarnya. Demi mendukung developer Journey! Pssst... Harganya juga tidak mahal. Sekarang malah sedang diskon 30%.
  • Desainnya sederhana, tapi keren. Gak ribet. Kita bisa milih fonts juga di sini. Gak banyak sih pilihan fonts-nya, cuma ada lima. Tapi, ya lumayan lah...
  • Kita bisa pakai PIN di Journey! Jadi, insyaAllah aman. Kalau ada yang pinjam hp kita, dia gak bakal bisa iseng buka-buka Journey kalau sudah kita set pakai PIN. 
  • Ada fitur kalender. Di kalender kita bisa lihat kapan saja kita sudah update jurnal dan ada quick preview-nya.
gambar dari sini

  • Kayak di blog, kita bisa memberi tags di Journey. Memudahkan kita untuk membuat klasifikasi dan mencari tulisan kita.
  • Di Journey ada atlas! Ini yang paling saya suka. Saya sering mengecek atlas dan melihat saya sudah menulis di mana saja. Tentunya untuk ini kita harus mengaktifkan fitur Location kita di hp biar Journey bisa tahu kita menulis dari mana. Kalau sudah begini, saya jadi mengkhayal untuk bisa sering jalan-jalan biar bisa menulis jurnal dari berbagai tempat, bukan hanya menulis di Bandar Lampung atau Pringsewu. 
  • Selain update lokasi, di Journey juga ada update cuaca. Menurut saya sih seru aja karena kita jadi tahu cuaca pas kita menulis jurnal, apakah hujan, cerah, atau mendung. 
  • Journey bisa dipakai offline. Kita tidak harus terkoneksi internet kalau ingin update. Nanti kalau sudah online, Journey bakal sync sendiri kok ke servernya. 
  • Kita juga bisa upload foto. Sayangnya cuma bisa upload satu foto untuk satu tulisan. Mudah-mudahan ke depannya Journey mengizinkan kita untuk bisa upload lebih dari satu foto di tiap tulisan. 

Setelah pakai Journey, saya semakin semangat untuk mencatat jurnal setiap harinya. Kadang-kadang dalam satu hari bisa update berkali-kali. Rasanya setiap ada kejadian apa saja langsung ingin saya tulis di Journey.

Jadi, bagi teman-teman yang belum mulai, belum rutin, atau bahkan bagi yang sudah rajin menulis jurnal, tidak ada salahnya mencoba Journey. Mari kita budayakan rajin menulis jurnal. It's good for our health kok. ;)

8 comments:

  1. hmmm, sepertinya saya masih belum tertarik dgn journey ini, kalo jurnal pribadi sejatinya, walaupun musti berletih2, lebih keren tulisan tangan sih. Jurnal onlen saya sementara cukuplah blog, sepertinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang lebih keren tulisan tangan sih, Om. Tapi, kalau aku daripada aku gak nulis jurnal dan kehilangan banyak cerita, ya lebih baik aku menulis di Journey. :D

      Delete
  2. ih, ikut2! saya juga pakai ini nhaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih, aku mana tahu kamu pakai ini juga. Kan kamu gak cerita sama aku. Kamu sibuk pacaran sih.

      Delete
  3. Bedanya apa dengan ngelog? (Mungkin akan jadi kepingin juga nih).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bedanya apa ya? Sepertinya sih gak ada bedanya. Hanya saja yang ini lebih private (meski bisa di-share juga ke publik sih). Bagiku, biar lebih memudahkan saja kalau mau menulis jurnal. Tinggal buka aplikasinya, terus nulis deh!

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;