Thursday, June 9, 2016

Love What You Do

Do what you love. Kalau ada yang bilang bekerja itu sebaiknya sesuai dengan passion, itu betul. Karena dengan mengerjakan sesuatu hal yang kita senangi itu insha Allah output-nya baik. Sayangnya tidak semua orang punya keistimewaan bisa kerja sesuai passion. Iya kan? Orang-orang ini asalkan tidak jadi pengangguran, bisa mandiri, punya gaji buat beli pulsa internet atau bisa kongkow-kongkow di kedai kopi internasional, tidak masalah bekerja apa saja. Tidak apa-apa kok meski tidak sesuai passion. Yang penting, ya itu tadi, digaji.

Alasannya macam-macam. Bisa jadi karena dia belum tahu passion-nya apa. Bisa juga karena dia realistis. Dia takut kalau mengejar passion nanti duitnya tidak cukup untuk beli ini itu. Atau bisa saja dia kurang nekad. Makanya tidak heran banyak sarjana muda begitu lulus langsung menyebar lamaran ke perusahaan-perusahaan, bank-bank, atau menunggu seleksi CPNS, meski mereka sadar betul pekerjaan yang mereka kejar itu bukan minat mereka. Atau, yah, begitu dijalani mereka baru sadar dan mikir, "Ini bukan gue banget. Males banget sih gue kerja kayak begini." Lalu, mereka malas-malasan. Kerja jadi tidak produktif.


Kalau banyak baca artikel Psikologi, self-help, motivasi, dan sejenisnya itu, kebanyakan sih memberi nasihat kepada kita untuk meninggalkan pekerjaan yang membosankan itu dan menyuruh kita untuk mengejar mimpi.

Kejar mimpimu setinggi langit! Jangan pernah menyerah! Live your life to the fullest! Hidup ini cuma satu kali maka jangan disia-siakan! Nikmati hidup! Bekerjalah sesuai passion-mu!

Itu tidak salah sih, tapi tidak salah juga kan kalau kita berusaha mencintai apa yang kita kerjakan? Love what you do, my friend. Seperti yang sedang saya lakukan sekarang sih.

Saya sekarang bekerja tidak sesuai passion. Ada banyak alasan kenapa saya mau bekerja di tempat saya sekarang. Apa saya menikmati pekerjaan ini? Yah, kadang suka, kadang tidak. Prinsip saya sekarang jalani saja. Selesaikan pekerjaan dengan baik. Apa yang bos minta, ya saya kerjakan. Tidak butuh inovasi atau kreativitas. Seperti robot ya? Iya.

Jujur, secara pribadi saya merasa tidak berkembang. Lagi pula siapa butuh inovasi dan kreativitas? Memang apa sih sebenarnya inovasi atau kreativitas itu? Makanan apa itu? Saya tidak butuh. Toh, yang lebih saya butuhkan sekarang ini motivasi.

Motivasi bisa dari mana saja. Jangan bahas motivasi dari dalam diri karena itu susah bagi saya. Jadi, saya butuh motivasi dari luar: gaji, lingkungan kerja, dan terutama bos.

Beberapa bulan purnama terakhir (entah tepatnya berapa bulan, saya tidak menghitung), saya kehilangan semangat kerja. Tidak ada semangat sama sekali. Faktor terbesar yang membuat saya kehilangan semangat ini adalah bos. Di kantor saya cuma leyeh-leyeh, baca buku, dengar musik sambil nyanyi-nyanyi, ngeblog, ngenet, dan jalan-jalan ke ruangan sebelah. Iya deh saya tidak produktif di kantor, tapi kan saya jadi produktif di blog. Saya juga jadi banyak baca buku kan. Saya keren kan?

Akhir Mei kemarin di ruangan saya ada bos baru. Awalnya saya sempat ragu-ragu dengan bos baru ini. Orangnya asyik nggak sih? Mau membimbing stafnya nggak? Karena kalau bos saya tipikalnya seperti yang kemarin, wah... Saya menyerah deh. Bisa-bisa makin cuek saya sama pekerjaan.

Alhamdulillah ternyata bos saya asyik. Hari pertama beliau masuk saya sudah bisa mengobrol panjang lebar dengan beliau. Beliau juga mau mendengarkan curhatan keluh kesah saya selama ini. Yang bikin senang lagi dari segi idealisme dalam pekerjaan saya dan bos saya ini tidak jauh berbeda. Duh, Gusti, syukur Alhamdulillah. Senang banget kalau akhirnya saya dipertemukan dengan bos dan rekan kerja yang cara pandangnya mirip-mirip.

Dari kejadian ini saya mikir-mikir... Eh, tidak hanya dari kejadian ini sih sebenarnya. Banyak! Pokoknya saya jadi mikir ternyata jadi bos itu tidak gampang ya. Ternyata bos bisa membuat staf kehilangan motivasi kerja lho. Kalau staf sudah malas kerja dan jadi tidak produktif, kan kasihan jadinya tidak punya output maksimal.

Saya pun jadi mengkhayal bagaimana nanti kalau saya jadi bos. Kayaknya nanti kalau saya jadi bos bakalan stres sendiri deh. Karena... Ehm... Ya gitu deh.

4 comments:

  1. Pas baca paragraf 1 mau komen, "Love what you do". Eh ternyata sudah dibahas :D

    ReplyDelete
  2. ciyee yg dapet bos baru,
    smoga ntar kalo jd bos bisa bikin hati anakbuah nyaman ya, amin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin... Thanks ya, Om! Meski entah kapan jadi bos. =))

      Delete
  3. Berusaha untuk, love what you do, sekaligus do what you love... Disingkronkan keduanya agar bisa dijalani beriringan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;