Wednesday, July 1, 2020

Prasangka

*Tulisan ini adalah rangkuman berseri dari buku Social Psychology karangan David G. Myers. Untuk Bab 8 bisa dibaca di sini.
**Tulisan ini cukup panjang. Jika kalian lelah, ada baiknya beristirahat dulu baru nanti dilanjut lagi bacanya.

***

Chapter 9 Prejudice: Disliking Others

What Is the Nature and Power of Prejudice?

Defining Prejudice

Prejudice: A preconceived negative judgment of a group and its individual members.

Prasangka adalah penilaian negatif yang sudah dimiliki terhadap sebuah kelompok dan anggota individu kelompok tersebut. Prasangka ini bisa dalam berbagai bentuk. Misalnya, takut terhadap orang kulit hitam karena menganggap mereka jahat. Prasangka adalah sikap. Masih ingat dengan ABC yang merupakan komponen sikap kan? 

Penilaian negatif ini diperkuat dengan adanya keyakinan negatif terhadap suatu kelompok dan anggotanya. Hal ini disebut stereotype

Stereotype: A belief about the personal attributes of a group of people. Stereotypes are sometimes overgeneralized, inaccurate, and resistant to new information.

Contoh stereotype misalnya suku tertentu dianggap pelit dan wanita adalah makhluk lemah.
 
Jika prasangka adalah sebuah sikap negatif, maka perilaku negatifnya disebut diskriminasi. 

Discrimination: Unjustified negative behavior toward a group or its members.

Contoh diskriminasi banyak sekali. Misalnya, di Amerika Serikat diskriminasi terhadap wanita dengan tidak memberikan hak pilih kepada mereka sebelum tahun 1920. Ini tepatnya contoh seksisme. 

Sexism: (1) An individual’s prejudicial attitudes and discriminatory behavior toward people of a given sex, or (2) institutional practices (even if not motivated by prejudice) that subordinate people of a given sex.

Contoh lainnya adalah rasisme. 

Racism : (1) An individual’s prejudicial attitudes and discriminatory behavior toward people of a given race, or (2) institutional practices (even if not motivated by prejudice) that subordinate people of a given race.

Prasangka ini bisa muncul dalam bentuk subtle dan overt.

What Are the Social Sources of Prejudice?

Social Inequalities: Unequal Status and Prejudice

Satu hal penting yang perlu diingat: status yang tidak setara melahirkan prasangka. Unequal status breeds prejudice. Ada orang-orang yang menyadari dan menjustifikasi perbedaan status ini. Orang-orang yang merasa dirinya di atas cenderung melihat orang lain dalam lingkup hierarki.

Social dominance orientation: A motivation to have one’s group dominate other social groups.

Orang-orang ini senang berada di dalam kelompok yang status sosialnya tinggi. Hasrat ingin berada di posisi atas membuat orang-orang yang berorientasi status sosial dominan dengan senang hati akan berprasangka dan akan memberikan dukungan politis yang menjustifikasi prasangka. 

Socialization

Selain dari status sosial yang tidak setara, prasangka juga bisa lahir dari nilai-nilai yang kita punya. Pengaruh dari keluarga bisa memengaruhi sikap prasangka pada anak-anak. Keluarga dan budaya meneruskan segala macam informasi ke individu, mulai dari bagaimana mencari jodoh, mengemudi mobil, membagi tugas dalam rumah tangga, dan siapa yang layak dipercaya dan tidak, yang mana untuk disukai dan dibenci.

Theodor Adorno et al. (1950) menemukan bahwa sikap permusuhan ke orang-orang Yahudi seringkali sikap tersebut berdampingan dengan rasa benci ke kaum minoritas lainnya. Pada mereka yang memiliki sikap prasangka yang cukup tinggi, kadang kala sikap prasangka tersebut tidak spesifik harus ke satu kelompok tertentu, melainkan sebuah pola pikir dan sikap yang sepenuhnya anti pada mereka yang berbeda. Orang-orang yang judgmental ini disebut dengan ethnocentric people

Ethnocentric: Believing in the superiority of one’s own ethnic and cultural group, and having a corresponding disdain for all other groups.

Mereka ini memiliki kecenderungan tertentu, seperti sikap intoleran pada mereka yang lemah, sikap selalu ingin menghukum, dan sikap hormat dan submisif pada pihak otoritas. Adorno et al. (1950) memiliki teori bahwa orang-orang dengan kepribadian otoritarian cenderung memiliki sikap prasangka dan stereotyping.

Authoritarian personality: A personality that is disposed to favor obedience to authority and intolerance of outgroups and those lower in status.

Selain kepribadian otoritarian, agama juga berperan dalam lahirnya sikap prasangka pada individu. Sangat umum kita lihat pemeluk suatu agama yang bersikap penuh curiga dan prasangka terhadap pemeluk agama lain. Penyebab lainnya adalah konformitas.

Institutional Supports

Institusi sosial (sekolah, pemerintah, media) ternyata bisa juga mendukung lahirnya sikap prasangka melalui kebijakan, seperti segregasi. Saya baru tahu kalau di AS sana hingga tahun 1970an banyak bank menolak permohonan kredit yang diajukan oleh wanita yang belum menikah dan orang-orang minoritas. Akibatnya, yang bisa punya rumah hanya pasangan kulit putih yang sudah menikah. Contoh lainnya, yaitu dari media. Lumrah kita lihat iklan pemutih kulit. Hal tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada kulit gelap. 

What Are the Motivational Sources of Prejudice?

Frustration and Aggression: The Scapegoat Theory

Rasa sakit dan frustrasi bisa menimbulkan sikap permusuhan. Ketika sumber penyebab frustrasi kita begitu intens atau tidak diketahui, kita cenderung mengalihkan rasa marah kita kepada hal-hal yang lain. Fenomena ini disebut displaced aggression, yang bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena lynching terhadap warga kulit hitam di AS pada kurun waktu 1882 - 1930. Di tahun-tahun tersebut lynching banyak terjadi karena harga kapas sangat rendah dan rasa frustrasi tinggi akibat kondisi ekonomi yang memburuk. Namun, ketika standar kehidupan meningkat, ekonomi membaik, masyarakat cenderung lebih terbuka pada kemajemukan dan mendukung undang-undang antidiskriminasi (Frank, 1999). Situasi damai pada antaretnis lebih mudah tercapai pada saat situasi makmur.

Kompetisi juga bisa menjadi bahan bakar timbulnya prasangka. Ketika dua kelompok terlibat dalam perebutan lahan pekerjaan, perumahan, atau status sosial, keberhasilan salah satu kelompok akan menyebabkan frustrasi pada kelompok yang lain. 

Realistic group conflict theory: The theory that prejudice arises from competition between groups for scarce resources.

Social Identity Theory: Feeling Superior to Others

Konsep diri -- yang sudah pernah saya rangkumkan di sini -- tidak hanya terdiri dari identitas personal, melainkan juga identitas sosial. Misalnya, saya adalah warga negara Indonesia merupakan salah satu dari identitas sosial saya.Turner dan Tajfel mengajukan teori identitas sosial (social identity theory). 

Social identity: The “we” aspect of our self-concept; the part of our answer to “Who am I?” that comes from our group memberships.

Mereka berdua mengobservasi hal berikut yang langsung saya kutipkan saja:

  • We categorize: We find it useful to put people, ourselves included, into categories. To label someone as a Hindu, a Scot, or a bus driver is a shorthand way of saying some other things about the person.
  • We identify: We associate ourselves with certain groups (our ingroups), and gain self-esteem by doing so.
  • We compare: We contrast our groups with other groups (outgroups), with a favorable bias toward our own group.

Dari penjelasan di atas kita mendapat terminologi baru, yaitu ingroups dan outgroups. Masing-masing definisinya adalah sebagai berikut:

  • Ingroup: “Us”—a group of people who share a sense of belonging, a feeling of common identity
  • Outgroup: “Them”—a group that people perceive as distinctively different from or apart from their ingroup.

Kita mengevaluasi diri kita sebagian dari keanggotaan kita dalam kelompok. Memiliki rasa "we-ness", alias kita atau kami, memperkuat konsep diri individu. Rasanya menyenangkan. Kita tidak hanya mencari rasa hormat untuk diri kita sendiri, melainkan juga rasa kebanggaan dalam sebuah kelompok (Smith & Tyler, 1997). Sebagai tambahan, melihat kelompok kita sebagai kelompok yang superior membantu kita untuk merasa jadi lebih baik. 

Ketika individu sedikit memiliki identitas personal yang positif, maka ia akan mensubtitusikan rasa keberhargaan dirinya dengan mengafiliasikan diri dalam sebuah kelompok. Tidak heran jika remaja mencari pride, power, rasa aman, dan identitas dengan menjadi anggota sebuah geng. Ketika identitas personal dan sosial dari seorang individu melebur -- ketika garis perbedaan antara dirinya yang unik dan dirinya sebagai anggota kelompok semakin tipis -- individu tersebut rela melakukan apa saja demi kelompoknya, termasuk mengorbankan nyawa.

Ingroup bias: The tendency to favor one’s own group.

Ingroup bias adalah sebuah bias akan kecenderungan menganggap kelompok kita lebih baik. Bersama self-serving bias akan meningkatkan self-esteem individu. Gambar di bawah ini akan menjelaskan dengan lebih baik.


klik gambar untuk memperbesar


Kita rentan untuk "terkena" ingroup bias ketika kelompok kita jumlah anggotanya sedikit dan secara status lebih rendah daripada outgroup. Ketika kita menjadi bagian dari sebuah kelompok kecil yang dikelilingi oleh kelompok besar, kita akan semakin sadar posisi dan keanggotaan kita dalam kelompok tersebut. Namun, ketika kelompok kita adalah mayoritas, kita tidak terlalu memikirkannya.

What Are the Cognitive Sources of Prejudice?

Categorization: Classifying People into Groups

Salah satu cara memudahkan hidup kita adalah dengan mengkategorikannya, yaitu dengan mengorganisir objek-objek ke dalam kluster kelompok. Jika seorang ahli biologi mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan, maka manusia mengklasifikasikan manusia. Bingung? Contoh mudahnya begini: ada orang Lampung, orang Jawa, orang Amerika, dan lain-lain. Dengan begitu kita sudah mengklasifikasikan manusia. 

Apa tujuan dari klasifikasi atau kategori ini? Tentu saja untuk mempermudah hidup kita seperti yang sudah saya bilang di paragraf sebelumnya. Dengan mengetahui klasifikasi atau kategori individu dalam suatu kelompok, kita bisa mengetahui informasi yang berguna hanya dengan usaha yang minimal. Misalnya, wanita Lampung itu cantik-cantik, seperti saya contohnya. Ha, ha. Memuji diri sendiri tidak apa-apa ya? Karena kalau bukan saya, siapa lagi yang akan memuji? Masih ada Mama saya sih.

Penggemar: Halah, kok malah ngelantur, Kim? Ayo, fokus, fokus!

Eh iya, maaf ya. Mari kita kembali ke topik.

Kalau kata Myers, individu akan sangat mudah bergantung pada stereotype ketika dalam kondisi tertentu. Kondisi yang dimaksud adalah:

  • pressed for time (Kaplan & others, 1993).
  • preoccupied (Gilbert & Hixon, 1991).
  • tired (Bodenhausen, 1990).
  • emotionally aroused (Esses & others, 1993b; Stroessner & Mackie, 1993).
  • too young to appreciate diversity (Biernat, 1991).

Ada yang namanya outgroup homogeneity effect. Definisinya adalah:

Outgroup homogeneity effect: Perception of outgroup members as more similar to one another than are ingroup members. Thus “they are alike; we are diverse."

Dan ada juga own-race bias, yaitu:

Own-race bias: The tendency for people to more accurately recognize faces of their own race. (Also called the cross-race effect or other-race effect.)

Distinctiveness: Perceiving People who Stand Out

Cara lain kita mempersepsikan dunia kita juga melahirkan stereotypes. Kalau kata Myers, "Distinctive people and vivid or extreme occurrences often capture attention and distort judgments." Misalnya, saya sebagai satu-satunya wanita di dalam sebuah kelompok atau seorang pria dengan tinggi minimal 190an cm di antara orang-orang yang tingginya 170an cm. Dengan melihat atau menyadari keberadaan orang yang stand out (terlihat sangat mencolok dibanding yang lain) otak kita langsung dengan mudahnya melakukan stereotyping.

Stigma consciousness: A person’s expectation of being victimized by prejudice or discrimination.

Saking sudah terbiasanya menjadi minoritas sepanjang hidupnya, seorang kulit hitam di AS, misalnya, menyadari dan semacam sudah bersiap-siap untuk diperlakukan sebagai korban karena prasangka atau diskriminasi. Sudah cukup sering kita melihat berita orang kulit hitam tidak melawan ketika diperlakukan semena-mena oleh polisi kulit putih. Mereka menyadari atau sudah mempersiapkan diri akan mendapat perlakuan seperti itu.

Attribution: Is It a Just World?

Dalam menjelaskan perilaku orang lain seringkali kita melakukan fundamental attribution error. Kita sudah membahasnya di Bab 3. Kita "menyalahkan" perilaku orang lain dengan sifatnya atau kepribadiannya tanpa mengindahkan barangkali ada faktor situasional yang penting. Misalnya, Adi telat masuk kelas sebenarnya karena macet, tetapi dia dimarahi gurunya karena dianggap pemalas. Ini jika dalam skala kecil. Dalam skala yang besar, yaitu dalam kelompok, melakukan atribusi seperti ini namanya group-serving bias

Group-serving bias: Explaining away outgroup members’ positive behaviors; also attributing negative behaviors to their dispositions (while excusing such behavior by one’s own group).

Pokoknya individu dari kelompok lain itu paling nggak benar deh ketimbang anggota kelompok sendiri. Misalnya, Susan menggosip dengan Tantri, "Eh, si Ani dari kelompok arisan sosialita sebelah itu nyumbang segitu banyak pasti karena ingin pamer. Hih, sombong. Kalau nyumbang itu kan harusnya diam-diam saja." 


klik gambar untuk memperbesar


What Are the Consequences of Prejudice?

Self-Perpetuating Stereotypes

Sebagai manusia kita tidak akan pernah bisa lepas dari prejudgment. Di otak kita pasti sudah tertanam persepsi atau penilaian akan sesuatu. Prejugment are self-perpetuating. Ketika anggota kelompok berperilaku sesuai yang diperkirakan, keyakinan kita sebelumnya terkonfirmasi. Namun, jika anggota kelompok tidak berperilaku sebagaimana mestinya, kita akan menginterpretasikannya atau menjelaskannya sebagai sebuah situasi yang spesial. Misalnya, Ana adalah atlet bola basket dan Mark juga atlet bola basket. Pasti Ana dianggap sangat maskulin atau atletis. 

Jujur, saya agak bingung dengan penjelasan bagian ini. Tapi, kalau saya tidak salah tangkap dari penjelasannya, barangkali maksudnya adalah prejudgment yang kita punya, stereotyping yang kita lakukan dari prasangka yang kita punya, akan berlangsung terus selama hidup kita dan hal tersebut akan memengaruhi perilaku kita.

Discrimination’s Impact: The Self-Fulfilling Prophecy

Diskriminasi tentu saja memengaruhi korbannya. Eksperimen yang dilakukan oleh Carl Word, Mark Zanna, dan Joel Cooper (1974) menunjukkan diskriminasi bisa membuat individu self-confirming dengan social beliefs. Partisipan mereka adalah orang kulit putih mewawancari asisten peneliti yang menjadi confederate (menyamar menjadi job applicants). Ketika pelamar kerjanya adalah orang kulit hitam, partisipan duduknya agak menjauh dan 25% mempercepat waktu wawancara, dan melakukan kesalahan 50% dalam berbicara dibandingkan sewaktu mewawancarai pelamar kerja kulit putih.

Kemudian, eksperimen kedua dilakukan. Para pewawancara terlatih akan mewawancarai partisipan di eksperimen pertama dengan cara seperti mereka sewaktu mewawancarai asisten peneliti yang menyamar. Hasilnya, partisipan ini menjadi lebih gugup dan tidak efektif dalam menjawab pertanyaan. Hal itu menunjukkan diskriminasi membuat korbannya percaya bahwa dirinya tidak mampu dalam menjawab wawancara karena meyakininya (self-fulfilling prophecy).

Stereotype Threat

Stereotype threat: A disruptive concern, when facing a negative stereotype, that one will be evaluated based on a negative stereotype. Unlike self-fulfilling prophecies that hammer one’s reputation into one’s self-concept, stereotype threat situations have immediate effects.

Beberapa eksperimen yang dilakukan Steven Spencer, Claude Steele, dan Diane Quinn (1999) memberikan tes matematika yang sulit kepada siswa pria dan wanita yang memiliki kemampuan matematika yang serupa. Ketika diberitahu bahwa tidak ada perbedaan gender dalam tes dan evaluasi dalam setiap kelompok, performa para wanita secara konsisten menunjukkan hasil yang setara dengan hasil performa para pria. Namun, ketika diberitahu bahwa ada perbedaaan gender, para wanita mengonfirmasi stereotype tersebut. Performa mereka jadi anjlok.

Bagaimana caranya ancamana stereotype ini bisa mengganggu performa? Karena dia bisa menyebabkan stres, self-monitoring (takut melakukan kesalahan sehingga menjadi tidak fokus), menekan pikiran dan emosi yang tidak diinginkan dimana untuk supresi tersebut diperlukan usaha yang cukup kuat yang memerlukan energi dan memori. 

Sejauh ini Psikologi Sosial sudah bisa cukup banyak menjelaskan bagaimana terjadinya prasangka dibandingkan usaha untuk mengurangi munculnya prasangka. Pertanyaan saya untuk teman-teman, bisa didiskusikan di kolom komentar di bawah ini, atau kalian renungkan, bagaimanakah caranya atau apakah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi prasangka? Minimal, untuk kita sendiri agar tidak terjebak atau memiliki prasangka yang berujung pada melakukan diskriminasi terhadap orang lain?

Daftar Pustaka:

Myers, D. G. (2010). Social psychology (10th ed.). New York: McGraw-Hill.
Share:

2 comments:

  1. Halo kak, terima kasih sudah membantu untuk merangkum ya. Pengaturan dan Penyusunannya memudahkan untuk dibaca serta dipahami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Senang rasanya jika rangkuman saya ini bisa bermanfaat.

      Delete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;