Tuesday, October 13, 2020

Tiga Cerita dalam Satu Tulisan

Tidak terasa bulan Oktober ini satu tahun saya bekerja di Jakarta. Saya sudah nyaman dan betah di tempat kerja. Meski terkadang kalau sedang kangen rumah saya mempertanyakan keputusan saya untuk pindah, "Apakah saya mengambil keputusan yang tepat?"

Kegalauan itu semakin menjadi sekarang. Saya baru pulang dari rumah setelah satu bulan melepas rindu dengan Mama dan kampung halaman. Ketika saya berpamitan dengan Mama kemarin pagi, Mama memeluk erat dan mencium saya. Sekilas saya melihat Mama air mukanya sedih. Beliau menangis. Hati saya terasa berat untuk pulang.

Saya bisa mengerti perasaan beliau. Tentunya harapan beliau saya, sebagai anak bungsu, di rumah menemaninya. Apalagi di rumah sekarang sepi. Beliau hanya ditemani nenek dan tante saya. Biarpun ada temannya, tentu beda rasanya jika ditemani anak sendiri. 

Sewaktu pulang kemarin Mama saya mengajukan permintaan khusus. Beliau ingin tidur dengan saya. Tentu saja saya mengiyakan. Saya memeluk beliau di saat tidur dan terkadang saya menciumnya. Jujur, saya tidak pernah menyangka di usia sekarang saya bisa sedekat ini dengan ibu saya. Dulu sewaktu saya masih kecil saya melihat Mama sebagai sosok yang jauh untuk dijangkau. Kami tidak pernah dekat. Hubungan kami baru terasa baik setelah Mama menua dan saya dewasa. Semakin tua Mama semakin berkurang egonya dan saya mau membuka ruang untuk memberi kesempatan kepada kami berdua supaya memiliki hubungan yang baik.

Penggemar: Itu kan cerita pertama dalam tulisan ini tentang kamu dan Mama-mu, Kim. Kalau tentang setahun belakangan ini ada kejadian apa yang seru selama di Jakarta? Apa cerita berikutnya?

Saya masih sakit-sakitan. Ha, ha. Sungguh tidak asyik ya?

Setelah pemeriksaan kesehatan untuk asuransi kesehatan saya dicurigai ada kista dan tumor jinak di payudara, saya memutuskan untuk mencari second opinion. Saya ke RS Medistra menemui dr. Diani Kartini -- dokter bedah onkologi yang dulu pernah merawat saya -- dan melakukan pengecekan. Setelah di-USG, kista dan tumornya tidak ada, tetapi saya dicurigai ada prolaktinoma. Kadar hormon prolaktin saya dalam darah sangat tinggi.

Prolaktinoma adalah munculnya tumor jinak di kelenjar hipofisis (pituitari) di otak. Kelenjar hipofisis ini menghasilkan hormon prolaktin. Tumor jinak ini menyebabkan produksi hormon prolaktin berlebih, yang salah satu gejalanya mengeluarkan asi meski sedang tidak hamil ataupun menyusui. Gejala lainnya, seperti sakit kepala, penglihatan terganggu, mual dan muntah, menstruasi tidak teratur (bahkan terhenti), dan lain-lain. 

Dari hasil googling, saya menemukan salah satu penyebab peningkatan hormon prolactin ini karena konsumsi obat antipsikotik, seperti Risperidone dan Haloperidol. Saya curiga bisa jadi ini penyebabnya karena saya mengonsumsi Risperidone sejak bulan Mei 2020. 

Melihat hasil lab hormon prolaktin saya yang tinggi, dr. Diani menyuruh saya untuk melakukan CT scan otak. Sementara itu, saya juga melakukan konsultasi dengan dr. Sylvana Evawani, psikiater saya, menanyakan kemungkinan Risperidone sebagai tersangka berlebihnya hormon prolaktin saya. dr. Ana bilang iya ada kemungkinannya. Oleh dr. Ana, saya disuruh menghentikan konsumsi Risperidone (sejak tanggal 8 September 2020) dan diganti dengan Abilify 2.5mg. 

Itu kejadiannya tepat sebelum saya pulang ke Bandar Lampung. Tanggal 15 September 2020, mumpung PSBB, saya memutuskan untuk pulang kampung. Alasan utama saya pulang adalah karena saya trauma takut depresi saya kumat karena PSBB saya bakal sendirian dan tidak kemana-mana. Saya ijin dengan atasan saya dan diberi ijin. Semua file kerjaan saya unggah ke Google Drive. Alasan berikutnya, saya berobat di Bandar Lampung saja. Kebetulan saya ada dokter langganan yang baik hati yang sekarang sudah jadi dokter spesialis syaraf. Namanya dr. Luther Teng. Jadi, saya berobat dengan beliau saja. Untuk urusan presensi, tidak usah bingung. Bisa diatur itu.

Fast forward ke tanggal 7 Oktober 2020, saya melakukan pemeriksaan MRI otak, bukan CT scan karena dr. Luther (dokter kesayangan kami sekeluarga) menyuruh demikian. Sebagai pasien yang baik, saya menurut saja. Hasilnya tidak ada tumor di kelenjar hipofisis, tetapi ada kista kecil di temporal lobe kanan. dr. Luther bilang tidak apa-apa dengan kistanya. Didiamkan saja. Kecuali nanti membesar dan mengganggu (bisa menyebabkan epilepsi) baru dilakukan operasi.

Dengan demikian, saya tidak ada prolaktinoma, tetapi saya tetap punya hiperprolaktinemia. Alhamdulillah, saya tidak ada tumor. Meskipun jinak, tetapi kan tetap saja ya mengganggu. Seandainya ada tumor, saya sudah mempersiapkan diri untuk minum obat atau melakukan radiasi. Sebenarnya ada opsi operasi, tetapi saya tidak mau mengambil opsi tersebut. Untungnya, saya tidak perlu mengambil opsi apapun. Alhamdulillah.

Saya belum diberi obat oleh dr. Luther. Beliau bilang tunggu sebulan lagi sambil menunggu efek Risperidone-nya semakin berkurang dan habis dari tubuh saya. Nanti kalau sudah sebulan saya masih galaktorea (keluar asi dari payudara), baru deh dikasih obat.

Itu cerita kedua dari saya. Sekarang kita lanjut ke cerita ketiga.

Saya pindah kosan. Kosan saya yang baru ini masih dekat dengan kosan lama. Lebih nyaman, tetapi lebih mahal. Wajar sih karena ada AC (kosan lama saya tidak ada AC), kamarnya lebih luas, dan kamar mandi di dalam juga lebih luas dibandingkan kamar mandi di kamar saya di kosan lama. 

Saya pindah karena kakak saya, Ses Renny. Beliau bulan lalu ke Jakarta dan mampir ke kosan saya. Sebelum kami menginap di hotel, beliau tidur sebentar di kamar dan saya tinggal kerja. Pulang kerja, Ses Renny ngomel-ngomel. Kamar saya panas lah, sempit lah, ini lah itu lah, sampai akhirnya beliau bilang, "Ayo, kita cari kosan. Nggak betah gue di kosan lo ini. Kalau gue jadi elo, bakal depresi juga gue di kosan ini." Baiklah, Ses. Mari kita cari kosan. Cari doang kan? Belum tentu pindah kan?

Singkat cerita, ketika saya menunjukkan kosan saya yang sekarang kakak saya langsung setuju. "Di sini lebih nyaman, Dek. Kalau gue ke Jakarta kan gue bisa nginep di sini jadi nggak perlu ke hotel." Tadinya saya ogah untuk pindah. Saya tidak masalah di kosan saya yang sebelumnya yang tidak pakai AC. Selisih harganya lumayan untuk ditabung. Tetapi, saya luluh juga begitu Ses Renny bilang, "Yang penting lo nyaman, Dek. Gue liat kosan lo itu sumpek. Gue pengen lo happy." Baiklah, Ses. Siapa tahu dengan pindah kosan saya menjadi lebih bahagia dan tenang. Saya langsung transfer ke Bapak Kos Baru dan segera memindahkan barang-barang. Proses pindahan pun hanya dalam dua jam. Kamar tidak langsung saya tempati karena saya kan pulang dulu ke Bandar Lampung.

 So, demikianlah cerita saya untuk kali ini. Apa ceritamu?

Share:

6 comments:

  1. semoga terus sehat & makin nyaman bekerjanya ya, Kim

    ReplyDelete
  2. semangat, Kimii.. baca yang kisah penyakitmu, semoga tumornya bisa hilang tanpa operasi..

    untuk kosan baru, memang benar kalo tinggal di kosan kurang nyaman bisa bikin stres kaan.. selisihnya bisa dianggap sebagai investasi kesehatan mental lah, ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Zam... Iya, aku juga mikirnya anggap sajalah sebagai investasi kesehatan mental.

      Delete
  3. Semangat, Mbak Kimi. Semoga pindah ke kosan baru yang lebih nyaman bisa berpengaruh positif ke kesehatan Mbak Kimi. :)

    ReplyDelete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;