Sunday, May 17, 2020

What My Suicide Note Would Be Like

Kalau ada hak untuk hidup, kenapa tidak ada hak untuk mati? Maksud saya, kenapa manusia tidak boleh membunuh dirinya sendiri? Kenapa agama melarangnya? Kenapa society mengutuknya? Hal itu pernah saya tanyakan ke teman saya. Jawabnya cuma, "Stay with me, Kimi."

I am not suicidal (yet), but I often have suicidal thoughts. Just like last night, I was imagining myself cutting my throat or stabbing my chest with a knife that I was holding. At other times, I imagine what it feels like to jump on to a moving train or jump off from the top of a building.

Alasan saya tidak melakukannya karena keluarga saya. Keluarga saya telah melalui banyak hal. Maybe I'm the only good thing that's left in my (nuclear) family. Membayangkan saya -- anak kebanggaan dan kesayangan orangtua -- pulang ke rumah sudah menjadi mayat, matinya karena bunuh diri pula, lalu membayangkan reaksi ibu dan kakak saya, apakah mereka nanti tidak bakal hancur? 

So, the closest thing I can do is harming myself.

Dan sewaktu saya didiagnosa depresi, reaksi pertama saya adalah saya tidak percaya. "Nggak mungkin saya depresi. Orang lain bisa depresi, tapi saya nggak," pikir saya. Tapi, toh nyatanya saya memang depresi (dan ternyata saya memang rentan kena depresi). Saya dikasih obat untuk menjaga kewarasan saya, yang mana kadang berhasil, kadang juga tidak. Seringnya sih berhasil. 

Meskipun depresi saya masih kategori sedang, tetap saja rasanya berat. Depression is really fucking hard. Seperti yang saya bilang di sini, rasanya tuh seperti jalan di terowongan gelap yang tidak ada ujungnya. Serius. Saya nggak bisa lihat apa-apa selain gelap. Dark thoughts are always coming in. Fighting them is a difficult task. Dan saya merasa tidak punya tenaga untuk melawannya. Rasanya cuma ingin diam saja di kamar. Atau menyiksa diri sendiri.


it's damn hard


Ada kalanya saya tidak mau sembuh. Sakit saja terus begini sambil menghancurkan diri sendiri. Namun, ada kalanya ya saya capek juga dan saya mau sembuh. Obat-obatnya mahal, cuy, kalau harus beli pakai duit sendiri. Mwahahaha.

Sudah dua hari ini saya sedang dalam kondisi drop. Twice I cut myself. Many times I thought about ending my life, tapi nggak jadi karena alasan yang sudah saya sebut di atas. That, dan saya masih takut neraka. Ha, ha. Untung otak saya masih bisa diajak berpikir logis ya. 

Dan, kalaupun, seandainya hal itu benar-benar terjadi saya akan meninggalkan suicide note yang kira-kira isinya: ini bukan salah siapa-siapa, saya sayang sama keluarga saya dan terima kasih sudah membesarkan saya, saya minta maaf ke semuanya, dan tolong organ tubuh saya kalau ada yang bisa disumbangkan, ya disumbangkan saja ke yang membutuhkan.
Share:

2 comments:

  1. Aku sudah baca dua tulisan terbaru Kakak. Kak Kimi, aku memahami keadaanmu. Aku pernah, meski sebentar, mencicipi depresi. Kelam sekali, aku tahu. Di sekitarku juga banyak yang mengalaminya. Dan aku pribadi (dan mungkin banyak orang) merasa berat menerima fenomena bunuh diri bukan karena society and religion’s judgment. Aku merasa berat karena hal itu menyisakan kesedihan di dada dalam waktu yang lama. Kematian kita tidak terjadi di diri kita, melainkan terjadi pada orang lain. Hilangnya satu nyawa selain karena sakit atau kecelakaan tak terduga adalah sebuah tragedi yang menyesakkan. Kenal atau tidak dengan orang-orang itu (yang dibunuh, yang bunuh diri), mendengar berita semacam itu dadaku seperti tercabik.

    Terlebih bila itu Kak Kimi. Kita pernah berkenalan. Kita pernah bertukar sapa. Menyimak ceritamu yang ini saja dadaku sesak luar biasa. Apalagi sampai mendengar berita duka tentangmu.

    Stay with us, Kak.
    I see you.
    Semoga bebanmu disembuhkan.

    ReplyDelete
  2. sudah tak ada alasan hidup tapi terpaksa bertahan demi orang lain itu... biasa. Banyak orang lain juga begitu. Terjebak dalam terowongan gelap tanpa ujung, tiap hari resah sampai tidur, begitu bangun langsung mulai lagi... setiap hari begitu. Apalagi di musim paceklik begini, banyak banget lah anggota baru kita.

    coba aktifitas fisik deh Kim. olahraga atau apa kek, setiap hari sampai berkeringat. Dijamin ga bakal menyelesaikan masalah, tapi tuh depresi rasanya jadi lebih bearable. Dan bonusnya badan kamu jadi bagus, postur kamu juga bakalan lebih seksi. dijamin.
    urusan depresi mah biar aja, kerjain yg hasilnya jelas dulu.

    ReplyDelete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;