Ketakutan Terbesar

Foto oleh Felix Mittermeier dari Pexels 


Ayah saya sudah meninggal hampir sepuluh tahun yang lalu. Dulu rasanya berat sekali harus kehilangan orang yang paling saya sayangi. Maklum, ini pengalaman pertama orang di ring satu saya ada yang meninggal. 

Dulu sebentar-sebentar saya menangis. Tidak ada nafsu makan. Juga sulit tidur. Kalau pun bisa tidur, pasti saya mimpi buruk. Pernah rasanya saya ingin ikutan saja dikubur di sebelah makam Papa. Pernah juga malam-malam saya berpikir mau bongkar kuburan Papa karena siapa tahu kan Papa mati suri terus bangkit dari kubur. Jadi, ceritanya dulu saya pikir tidak ada salahnya dicek ulang. Wkwk. 

Kalau itu belum cukup aneh, saya pernah mengirim pesan teks ke Om Ayah bertanya bagaimana caranya biar bisa melihat roh Papa. Saya bertanya begitu karena om saya, adik kandung Papa, pernah bilang kalau Papa--setelah meninggal--mendatanginya dan menitipkan pesan. Saya termasuk pesan yang disampaikan Papa ke om saya. "Titip anak bungsuku ya, Dek. Jaga dia baik-baik," begitu om saya bilang menyampaikan pesan Papa. Kalian bisa percaya, bisa juga tidak. Entah ini benar, entah tidak. Tetapi, pada saat itu begitu mendengar cerita om saya, saya stres. Saya tidak bisa berpikir jernih. Stres karena kenapa Papa tidak "datang" langsung ke saya? Apa Papa tidak tahu kalau saya rindu beliau? Apa Papa tidak tahu kalau saya sayang banget sama beliau? Apa Papa tidak tahu kalau ini terlalu berat buat saya? 

Memang Papa tidak menemui saya secara langsung, tetapi beliau datang lewat mimpi. Dulu, waktu awal-awal Papa meninggal sampai beberapa bulan setelahnya, saya cukup sering memimpikan Papa. Dan seringnya mimpinya membuat saya sedih. Tema mimpinya tidak jauh-jauh dari saya merawat Papa yang sedang sakit, atau Papa akan pergi jauh, yah yang begitu-begitu. Sampai akhirnya sekarang saya sudah sangat jarang memimpikan Papa. 

Kejadian serupa terulang sewaktu Mama meninggal. Ketika saya harus menjalani kembali masa-masa berduka, sempat saya bergumam ke diri sendiri, "Oh, shit. Here we go again. To grief. Let's see how long it will last."

Kemarin sewaktu menonton ulang Black Mirror musim kedua episode "Be Right Back", saya berefleksi. Jika saja di tahun 2013 dan di 2020 dulu sudah canggih seperti di latar waktu "Be Right Back", alias kalau ada kesempatan, niscaya saya akan melakukan hal yang sama seperti Martha (Hayley Atwell). Saya akan membeli layanan kecerdasan buatan yang bisa menghadirkan kembali kedua orangtua saya. Saya ingin berbincang langsung dengan mereka, mendengarkan suara mereka, melihat raut tua wajah mereka, dan memeluk tubuh tua mereka. Saya tidak peduli jika orang lain menganggap saya gila. Persetan dengan mereka semua. Saya hanya ingin orangtua saya hidup kembali, apapun definisi hidup yang dimaksud.  



Tetapi, harganya pasti mahal? Duit dari mana? Jangan khawatir, saya akan menemukan caranya. 

Saya jadi bisa mengerti mengapa orang-orang berduka sebenarnya bisa jadi sasaran empuk bagi perusahaan teknologi, seperti di "Be Right Back". Kami--saya dan Martha--adalah orang-orang yang rentan untuk dimanipulasi. Perusahaan tidak peduli hal itu etis atau tidak. Yang mereka pedulikan adalah produk mereka laku terjual. 

Kehilangan orang yang kita sayang memang tidak pernah mudah. Berduka adalah proses berat yang harus dijalani, mau tidak mau, oleh kita yang ditinggal pergi. Proses berduka tiap orang berbeda-beda. Saya dulu berpikir irasional, juga banyak membaca buku dan artikel tentang kematian dan proses berduka. Saya pernah menulis di blog ini tentang memaknai kematian. Sedangkan Martha membeli layanan kecerdasan buatan dari perusahaan teknologi. Sementara kalian, yang sudah pernah kehilangan, pasti punya cara yang berbeda lagi. 

Tidak ada waktu pasti selama apa orang berduka. Bagaimana cara mereka mengatasi dukanya pun berbeda-beda. Tidak sama. Pada akhirnya kita akan baik-baik saja. Bukan karena waktu yang menyembuhkan, melainkan karena waktu membuat kita terbiasa dengan rasa sakit yang ditimbulkan. Kita menjadi adaptif. 

Kalau pun ada hal yang saya takutkan dari waktu adalah saya takut waktu membuat saya melupakan orangtua saya. Melupakan di sini bukan berarti benar-benar melupakan, tetapi seperti takut lupa akan wajah orangtua saya, gaya bicaranya, intonasi suaranya, dan gestur tubuhnya. Dan itu terbukti sekarang. Saya mulai melupakan orangtua saya. Saya takut kenangan mereka akan hilang dari laci memori saya. Itu salah satu ketakutan terbesar saya.

Dulu saya sampai berpikir saya tidak mau melangkah terus menjalani hidup. Saya ingin terjebak saja di dalam memori di mana ada orangtua saya. Saya tetap ingin menderita agar saya dapat terus mengingat orangtua. Saya ingin dapat melihat mereka jelas dalam ingatan. Bukan seperti sekarang, yang terasa samar, seperti melihat siluet. Namun, saya tahu itu salah dan tidak baik buat saya. 

Cara terbaik yang bisa saya lakukan ketika saya rindu orangtua, saya membuka album foto. Saya juga menyetel rekaman video yang ada orangtua saya. Melihat foto dan nonton video rasanya tetap berbeda karena saya tidak bisa berkomunikasi langsung dengan mereka. Di saat-saat seperti ini lah saya ingin punya android Ash, tetapi dalam bentuk fisik orangtua saya. 

4 comments

  1. Kehilangan adalah duka sepanjang ingatan. Tak akan hilang. Tak jua menenangkan. Hanya terbingkai dalam kenangan.

    I feel you.
    Hanya bisa titip do'a untuk mereka.
    You are strong one.

    ReplyDelete
  2. I feel you mba. Memang butuh waktu menerima hal hal demikian.

    ReplyDelete

Saya akan senang sekali jika kalian meninggalkan komentar, tetapi jangan anonim ya. Komentar dari anonim—juga komentar yang menggunakan kata-kata kasar, menyinggung SARA, dan spam—akan saya hapus. Terima kasih sebelumnya.