Wednesday, March 17, 2021

Perkembangan Masa Hidup

Chapter 7: Lifespan Development

Di bulan Mei 2011, para reporter memberitakan sepasang kekasih di Toronto merahasiakan jenis kelamin bayi mereka yang berusia empat bulan. Harapannya, anak mereka mendapatkan perlakuan yang netral gender dan tidak mendapat stereotip. Mereka menamakan bayi mereka Storm.

Sementara itu, ada sebuah acara televisi yang berjudul Toddlers and Tiaras, dimana anak perempuan yang paling kecil berusia empat tahun didandani dengan bedak tebal, rambut ditata sedemikian rupa, dan memakai gaun untuk diikutsertakan dalam kontes kecantikan anak-anak.

Kedua kasus ini menggambarkan dua kubu ekstrem yang berbeda dalam perkembangan gender. Di satu kubu ada orangtua yang menginginkan anaknya agar diperlakukan setara dan tanpa ada paksaan peran gender dan stereotip gender. Sementara itu di kubu lain ada orangtua yang membesarkan anaknya dengan cara menanamkan peran gender sedari kecil; anak perempuan diajarkan untuk menjadi feminin dan anak laki-laki diajarkan untuk menjadi maskulin.

Pada bab ini kita akan membahas perkembangan gender sepanjang usia manusia dan peran budaya yang ekstensif dalam membentuk perkembangan tersebut. 


1. Infancy

Psikolog perkembangan mendedikasikan waktu yang tidak sedikit untuk mempelajari anak-anak, terutama anak-anak usia prasekolah dan bayi. Terdapat dua pertimbangan penting dalam meneliti perbedaan gender pada bayi. Pertama, jika perbedaan gender ditemukan pada bayi yang baru lahir, maka seharusnya perbedaan tersebut sebagai akibat dari faktor biologis, sehingga seharusnya sosialisasi peran gender tidak akan memberikan pengaruh banyak.


Foto oleh Anna Shvets dari Pexels


Kedua, para peneliti merasa penting untuk mempelajari bagaimana orangtua dan orang dewasa lainnya dalam memperlakukan bayi laki-laki dan bayi perempuan apakah terdapat perbedaan, baik secara mencolok maupun secara subtil.

a. Gender Differences in Infant Behavior

Kebanyakan tingkah laku bayi tidak menunjukkan perbedaan gender. Yang ada malah menunjukkan persamaan gender dalam hal temperamen bayi.

For example, male and female infants display equal amounts of sociability, shyness, soothability, and adaptability. Boys and girls also do not differ in how intense their moods are or how easy or difficult they are to care for.

Meskipun demikian, tetap ada perbedaan gender dalam temperamen pada bayi. Salah satu perbedaan yang signifikan adalah tingkat keaktifan bayi. Pada bayi, yang diukur adalah berapa kali mereka mengayunkan lengan dan menendang kaki. Peneliti meminta pada orangtua untuk menghitung seberapa sering bayi mereka menggerakkan anggota badan mereka pada saat mandi. Hasil meta-analisis melaporkan terdapat perbedaan kecil tapi konsisten antara bayi laki-laki dan bayi perempuan, di mana bayi laki-laki lebih aktif dibandingkan bayi perempuan.

b. Adults' Treatment of Infants

Area penelitian lain yang menarik bagi peneliti adalah bagaimana cara orangtua dan orang dewasa memperlakukan bayi perempuan dan bayi laki-laki.

In one clever study, mothers of 11-month-old babies were asked to estimate how steep a slope their infant could successfully crawl down (Mondschein et al., 2000). Mothers of boys estimated that they would be successful at steeper slopes than mothers of girls did
.
Dari sini saja sudah menunjukkan meski masih bayi, orangtua sudah memiliki ekspektasi yang berbeda. Ekspektasi orangtua memiliki dampak pada anak mereka.

c. Gender Learning in Infancy

Ternyata manusia mulai mempelajari gender dan melakukan pengkategorian gender pada usia yang relatif sangat muda. Ada satu teknik yang digunakan untuk mempelajari bagaimana bayi belajar mengenai gender. Teknik tersebut dinamakan the habituation paradigm (paradigma pembiasaan). 

Pada teknik pembiasaan, seorang bayi diberikan stimulus yang sama secara terus-menerus (misalnya, sebuah foto perempuan) sampai dia terbiasa dengan stimulus tersebut. Jika diberikan stimulus yang baru, misalnya foto pria, maka bayi meresponnya dengan penuh rasa tertarik dan perubahan pada rate detak jantung. 

Teknik lain yang serupa paradigma pembiasaan adalah the preferential looking paradigm. Teknik ini mengukur seberapa lama bayi memandang stimuli tertentu untuk menilai pada stimuli yang mana bayi tersebut lebih menunjukkan rasa ketertarikannya. Salah satu hasil penelitian yang menggunakan teknik ini menunjukkan bayi berusia 3 - 4 bulan yang memiliki pengasuh perempuan lebih memilih untuk melihat wajah perempuan ketimbang melihat wajah laki-laki.

2. Childhood

a. Gender Differences in Child Behavior

Pada usia sebelum memasuki masa sekolah, anak-anak sudah mulai menunjukkan perilaku perbedaan gender, utamanya di mainan dan preferensi teman bermain. Anak-anak usia 2 dan 3 tahun cenderung untuk memilih mainan yang sesuai dengan gender mereka dan teman bermain yang memiliki jenis kelamin yang sama. Misalnya, anak perempuan lebih senang bermain dengan boneka dan peralatan memasak, sementara anak laki-laki lebih memilih untuk bermain dengan senjata mainan dan mobil-mobilan. 

Perbedaan lainnya ada di perilaku agresif. Pada usia 2 tahun, perilaku agresif sudah dapat dideteksi, dan kita dapat menemukan perbedaan gender; anak laki-laki cenderung lebih agresif ketimbang anak perempuan.

b. Gender Learning in Childhood 

Jika kita bertanya pada anak perempuan usia 3 tahun apakah dia perempuan atau laki-laki, dia akan menjawab dia perempuan. Namun, jika ditanya lagi apakah ketika dia nanti dewasa bisa menjadi "Papa", kemungkinan besar dia akan menjawab iya. Jawaban akan berbeda jika ditanyakan pada anak usia 6 atau 7 tahun. 


Foto oleh samer daboul dari Pexels


Anak usia 3 tahun sudah memahami beberapa konsep tentang gender, tetapi belum mengembangkan gender constancy

Gender constancy: The understanding that gender is a stable and consistent part of oneself.

Menurut perkembangan kognitif Kohlberg, terdapat tiga tahapan dalam gender constancy ini. Berikut adalah ketiga tahapan yang dimaksud:

Stage 1. 
Gender identity: The first stage of gender constancy development, in which children can identify and label their own gender and the gender of others.

Stage 2.
Gender stability: The second stage of gender constancy development, in which children understand that gender is stable over time.

Contoh dari gender stability adalah appearance rigidity.

Appearance rigidity: Rigid adherence to gender norms in appearance, such as wearing highly masculine or feminine clothing and avoiding clothes typical of another gender.

Gender consistency: The third stage of gender constancy development, in which children understand that gender remains consistent despite superficial changes in appearance.

c. Transgender and Gender Nonconforming Child Development 

Bagi anak-anak transgender dan gender nonconforming, perkembangan gender memiliki perbedaan. Ketika identitas gender yang mereka rasakan tidak sama dengan identitas gender yang diberikan oleh orang dewasa, maka konflik bisa timbul. Mereka mengalami apa yang disebut dengan gender dysphoria

Gender dysphoria: Discomfort or distress related to incongruence between a person’s gender identity, sex assigned at birth, and/or primary and secondary sex characteristics.

Gender dysphoria dan konflik sosial yang mungkin muncul akan menyebabkan stres pada anak. 

d. From Gender Identity to Gender Roles: Self-Socialization 

Ketika seorang anak sudah memiliki konsep identitas gender, terutama memahami konsep gender constancy, maka mereka akan mempraktekkan self-socialization. Yaitu, anak-anak akan mengadopsi karakteristik gender mereka berdasarkan pengetahuan mereka akan karakteristik orang-orang yang mereka lihat di sekitar mereka.

Versi yang lebih kontemporer terkait hal ini adalah gender self-socialization model.

Gender self-socialization model: A theoretical model that children’s gender identification makes them want to adopt gender-stereotyped behaviors.

Menurut model ini, identitas gender anak-anak ("Saya seorang anak perempuan"), stereotip gender ("Anak laki-laki jago Matematika), dan gender self-perceptions ("Saya jago Matematika"), ketiganya akan saling memengaruhi selama anak-anak berkembang. 

Anak-anak juga belajar tentang diskriminasi gender. Di salah satu studi, anak-anak sekolah dasar dibacakan cerita tentang guru yang memberikan penilaian pada murid-muridnya. Di salah satu cerita, informasi yang diberikan termasuk perilaku diskriminasi gender, misalnya: "Pak Guru memberikan nilai yang lebih tinggi pada murid laki-laki daripada murid perempuan".

e. Gender Role Socialization 

Ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kita mengalami sosialisasi peran gender yang sangat kuat. Ada empat cara sosialisasi peran gender, yaitu channeling, differential treatment, direct instruction, dan modeling.

Socialization: The ways in which society conveys to the individual its expectations for their behavior.
Channeling: Selection of different toys, activities, and so on for boys and girls; also called shaping.
Differential treatment: The extent to which parents and others behave differently toward boys and girls.
Direct instruction: Telling boys and girls to behave in different ways.
Modeling: Demonstrating gendered behavior for children; also refers to the child’s imitation of the behavior.

Orangtua adalah agen sosialisasi pertama pada anak-anak. Semakin mereka bertambah dewasa, sekolah, media, dan teman sebaya menjadi sumber penting sosialisasi peran gender pada anak-anak.

f. Peers and the Gender Segregation Effect 

Eleanor Maccoby dalam bukunya The Two Sexes: Growing Up Apart, Coming Together menyimpulkan perilaku berbeda yang ditunjukkan oleh anak perempuan dan anak laki-laki tidak hanya diakibatkan dari pengaruh orangtua dan media, melainkan juga dari teman sebaya. Di usia 3 tahun, anak-anak memiliki kecenderungan untuk bermain dengan teman yang berjenis kelamin sama dengan mereka dan menghindari untuk bermain dengan lawan jenis. Kecenderungan tersebut akan semakin meningkat intensitasnya ketika mereka memasuki sekolah dasar. Anak laki-laki menyenangi permainan yang kasar, yang lebih banyak mengandung bahaya, dan mencari dominasi. Sementara anak perempuan tidak suka.

Menariknya, menurut Maccoby, ketika anak-anak bermain sendirian, perilaku perbedaan gender ini tidak terlalu kentara. Namun, jika mereka berada di dalam kelompok teman sepermainan mereka yang berjenis kelamin sama, perbedaan gender ini menjadi jelas dan mencolok. 

Dengan segregasi gender yang terjadi di masa kanak-kanak, bagaimana pria dan perempuan dewasa berekonsiliasi dengan membina hubungan asmara, bekerja sama, dan lain sebagainya? Jawabannya, di beberapa budaya, mereka tidak berekonsiliasi. Pada budaya yang segregasinya sangat tinggi, hubungan antar gender yang bisa terjadi hanya pada hubungan suami dan istri. Sementara pada budaya yang membuka kontak antara perempuan dan pria, ketertarikan seksual bisa membawa mereka dekat. 

Apakah segregasi gender ini tidak terelakkan? Menurut Maccoby, selama anak-anak diberi kebebasan untuk memilih teman bermainnya sendiri maka segregasi gender akan terus terjadi. Perlu ada campur tangan dari pihak sekolah untuk memastikan anak-anak memiliki pengalaman bekerja sama dengan lawan gendernya di dalam kelas. Praktik tersebut dapat mengurangi perbedaan gender yang ekstrem dan bisa mendorong hubungan antargender yang lebih harmonis di usia dewasa.

g. The Sexualization of Girls 

Seksualisasi terjadi ketika seseorang hanya dinilai dari daya tarik seks atau diobjektifikasi secara seksual. 

Sexualization: The process of valuing a person only for their sex appeal, sexually objectifying a person, or inappropriately imposing sexuality on a person. 

Anak perempuan bisa mengalami seksualisasi ketika mereka diperlakukan sebagai objek seksual oleh keluarga, teman, guru, dan orang dewasa lainnya. Contoh ekstremnya adalah pelecehan seksual pada anak-anak. Contoh lain yang tidak begitu ekstrem ketika orangtua menasihati anak perempuannya bahwa mereka harus memprioritaskan diri tampil menarik dan bisa dandan untuk mendapatkan perhatian dari laki-laki.

Kita bisa melawan seksualisasi ini. Di lingkup sekolah bisa disediakan program pelatihan literasi media sehingga anak perempuan bisa belajar menganalisa pada saat kapan mereka mengalami objektifikasi oleh media. Remaja perempuan bisa memberdayakan diri mereka sendiri dengan banyak belajar aktivisme, mencari tahu sendiri di internet, membaca buku, dan bisa terlibat langsung pada pergerakan, misalnya berkampanye melawan perusahaan yang menggunakan gambar-gambar seronok untuk menjual produk.

3. Adolescence 

Jika perilaku dan perkembangan anak perempuan dan anak laki-laki serupa selama sepuluh tahun pertama kehidupan mereka, lantas bagaimana perbedaan gender bisa muncul di saat dewasa? Pada tahun-tahun awal kehidupan, anak perempuan menunjukkan performa pendidikan yang lebih baik di sekolah dan sedikit menunjukkan perilaku untuk menyesuaikan diri ketimbang pria. Akan tetapi, perempuan dewasa, secara rata-rata, memiliki status pekerjaan yang lebih rendah ketimbang pria dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena depresi. 


Foto oleh cottonbro dari Pexels


a. Puberty for Cisgender and Transgender Youth 

Adakah teman-teman yang masih ingat masa-masa remaja kalian? Selain soal mulai lirik-lirik teman lawan jenis, tidak ada lagi yang saya ingat dari masa remaja. Buat saya, masa remaja itu biasa saja. Tidak ada yang spesial. Termasuk soal menstruasi pertama kali. Saya juga tidak terlalu ngeh dengan perubahan fisik yang saya alami di masa remaja. Antara saya memang tidak terlalu memikirkan atau memang tidak banyak perubahan dalam diri saya. I mean, badan saya memang kecil. Sampai sekarang juga masih kecil. Jadi, tidak terasa bedanya. Sepertinya dulu saya cuma kebanyakan falling in love with seniors that I could not have. Wkwkwk.

Namun, saya percaya banyak di antara teman-teman yang mengalami kebingungan di saat memasuki fase remaja. Suara yang mulai berubah, payudara yang mulai tumbuh buat perempuan, bulu yang tumbuh di mana-mana, dan masih banyak lagi. Masa pubertas memang bisa membuat remaja merasa canggung, menyenangkan, menakutkan, atau sesederhana merasa aneh, terutama buat mereka yang tidak punya informasi yang cukup mengantisipasi perubahan apa saja yang akan mereka alami. Buat sebagian yang lain, seperti saya, merasa ya sudahlah ya biasa saja. Tidak penting. 

Bagi remaja cisgender, perasaan masa remaja tergantung dari gender mereka: buat remaja laki-laki, mereka dengan semangat menyambut perubahan yang terjadi, sementara remaja perempuan merasa takut dengan perubahan yang dialami. Kenapa ini bisa terjadi?

Masa pubertas remaja laki-laki membuat mereka mendekati konsep ideal akan maskulinitas, yaitu memiliki tubuh berotot dan kemampuan tubuh yang atletis. Meningkatnya produksi hormon testosteron membuat mereka memiliki kemudahan untuk membangun massa otot, dan pria berotot digambarkan lebih maskulin. Sementara itu bagi remaja perempuan, masa pubertas membuat mereka ketakutan karena perubahan di dalam tubuh mereka membuat mereka jauh dari konsep tubuh ideal feminin. Kita semua tahu, konsep tubuh ideal buat perempuan yang digembor-gemborkan itu seperti apa: kurus dan tinggi, seperti model. 

Kapan waktu munculnya masa pubertas ini juga penting. Bagi remaja laki-laki, masa pubertas yang muncul lebih awal membuat mereka menjadi populer karena tubuh mereka yang lebih tinggi dan lebih berotot membuat mereka menjadi lebih atletis. Akan tetapi, buat remaja perempuan, terlalu cepat puber justru membuat mereka menjadi sasaran pelecehan. Misalnya, remaja perempuan yang payudaranya berkembang lebih dulu dari teman-temannya. Tubuh mereka yang mulai matang membuat mereka lebih terlihat sebagai perempuan dewasa. Karena para remaja ini secara sosial dan emosional belum sedewasa penampilan mereka, pelecehan dan perhatian secara seksual yang mereka terima membuat mereka mengalami kesulitan untuk mengatasinya. Intinya, terlalu cepat puber bisa menjadi masalah buat kesehatan mental bagi para remaja. 

Untuk remaja trans, masa pubertas akan menjadi lebih sulit karena mereka mengalami perubahan yang tidak sejalan dengan identitas gender mereka. Seorang remaja transgender pria ketika mengalami kenyataan bahwa payudaranya tumbuh akan menjadi stres. Dia mengalami apa yang sudah kita bahas di atas, yaitu gender dysphoria.

Ada satu video di YouTube yang saya tonton. YouTuber tersebut menceritakan pengalaman gender dysphoria yang dia alami. Saya lupa videonya yang mana jadi tidak saya sematkan di sini. Saya coba untuk mengingat kembali kata-kata yang dia sampaikan:

Sejak kecil saya selalu merasa saya ini laki-laki. Saya memakai pakaian yang lebih maskulin. Saya menjadi apa yang oleh orang-orang sebut dengan tomboy. Dan ketika masa puber datang, saya harus mengalami menstruasi, di situ saya merasa hancur. Saya marah. Kenapa saya harus mens?

Bagi yang penasaran mungkin kalian bisa mengubek-ubek nonton videonya yang mana. Tautan kanalnya sudah saya beri di atas. 😁

Orangtua dari anak dan remaja transgender yang suportif tentunya akan menerima dan mendukung anak-anaknya. Mereka akan menemani anak-anaknya melalui masa transisi perubahan gender. Ada video lain yang saya tonton di YouTube di mana sepasang orangtua memiliki dua anak: transgender pria dan transgender perempuan. Karena mereka masih anak-anak, jadi transisi yang mereka lakukan masih secara sosial. Begitu nanti mereka akan memasuki masa puber baru akan dilakukan pubertal suppression atau juga disebut dengan pubertal blockers

Pubertal suppression: Medical suppression of endogenous pubertal changes in adolescents; also called puberty blockers.

Jika gender dysphoria ini masih berlanjut meski sudah beberapa tahun mereka memakai pubertal suppression, maka akan dilanjutkan dengan pemberian hormon sesuai dengan identitas gender mereka. Ini termasuk hormon yang dapat menumbuhkan karakteristik seks sekunder, seperti janggut dan payudara. Biasanya tenaga kesehatan menganjurkan remaja transgender ini untuk menunggu sampai usia mereka 16 tahun sebelum memulai terapi hormon.

Dari transgender yang saya tonton videonya di YouTube, saya menyimpulkan ketika mereka sudah dewasa, sudah sangat yakin bahwa mereka memang transgender, dan merasa perlu untuk ganti kelamin, maka mereka akan melakukan operasi ganti kelamin. Ini adalah langkah terakhir yang membuat mereka akhirnya bernapas lega dan bisa teriak, "YES! AKHIRNYA GUE JADI COWOK/CEWEK JUGA!" 

b. Gender Intensification 

Masa puber membuat orang-orang mengubah persepsinya pada kita, sehingga seringkali membuat gender kita semakin menonjol. Para peneliti remaja mengajukan konsep gender intensification.

Gender intensification: Increased pressures for gender role conformity, beginning in adolescence.

Biasanya gender intensification ini dimulai ketika anak-anak berusia 11 atau 12 tahun. Misalnya, "Hei, kamu itu anak perempuan. Jangan main layangan lagi ya."

c. Identity Development 

Salah satu teori perkembangan yang terkenal dari Erik Erikson bilang masa remaja merupakan sebuah tahapan di mana tugas utama perkembangannya adalah mencari jati diri. 

d. Friendship and Dating 

It has been said that, in their friendships, girls and women stand “face to face” and boys and men stand “shoulder to shoulder” (Winstead & Griffin, 2001). That is, girls are face to face as they talk and self-disclose, whereas boys are shoulder to shoulder, engaged in some common activity such as a sport.

Perbedaan ini muncul sejak masa kanak-kanak yang sudah kita bahas di atas. Sementara dalam urusan kencan, penulis buku ini bilang:

Adolescent dating is the stage for the enactment of heterosexual, gendered scripts (O’Sullivan et al., 2001). Girls are valued for their appearance, boys for their athleticism. Around 10 to 12 years of age, girls begin paying more attention to their hair, clothing, and makeup, in efforts to make themselves more attractive to boys.

e. Body Dissatisfaction 

Banyak hasil studi menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki body esteem yang lebih rendah ketimbang remaja pria. Body esteem atau body image (citra tubuh) memiliki banyak komponen, termasuk perasaan seseorang akan berat badan, wajah, rambut, dan bentuk tubuh. Dimulai sejak akhir masa sekolah dasar, remaja perempuan lebih tidak puas dengan berat badan mereka ketimbang remaja laki-laki.

Standar kecantikan yang tidak masuk akal, seperti cantik itu harus putih, kurus, dan berambut lurus, membuat remaja perempuan sangat rentan. Ini sangat tidak sehat buat kita, terutama buat remaja perempuan. Ketidakpuasan akan tubuh yang dimiliki membuat mereka mengambil langkah berbahaya, seperti diet ketat berlebihan dan operasi plastik. 

Namun, belakangan kita melihat sudah cukup banyak kampanye kecantikan yang lebih inklusif, seperti semua warna kulit itu cantik dan body positivity

4. Emerging Adulthood 

Sebuah fenomena baru muncul di Amerika Serikat dan di beberapa negara Barat lainnya: emerging adulthood. Rentang usia periode perkembangan ini dari usia belasan akhir hingga usia 20an awal. Kalau sebelumnya, orang-orang sudah merasa atau dikatakan dewasa ketika mereka lulus sekolah, sekarang sudah tidak lagi. Dengan catatan ini di negara seperti AS dan negara Barat ya. Tentu saja kategori umur menurut di negara Barat berbeda dengan di Indonesia. 

Sumber dari sini, kategori umur Menurut DepKes RI (2009):

1. Masa balita              = 0 – 5 tahun,
2. Masa kanak-kanak   = 5 – 11 tahun.
3. Masa remaja Awal    = 12 – 1 6 tahun.
4. Masa remaja Akhir   = 17 – 25 tahun.
5. Masa dewasa Awal  = 26- 35 tahun.
6. Masa dewasa Akhir  = 36- 45 tahun.
7. Masa Lansia Awal    = 46- 55 tahun.
8. Masa Lansia Akhir    = 56 – 65 tahun.
9. Masa Manula           = 65 – sampai atas.

Kategori tersebut memang dibuat sudah lama di tahun 2009. Saya kurang tahu juga apakah Kemenkes sudah mengeluarkan kategori umur yang baru atau belum. Kalau ada teman-teman yang tahu, boleh berbagi info di kolom komentar.

5. Adulthood 

a. Romantic Relationships and Marriage 

Pernikahan mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam lima puluh tahun terakhir. Misalnya, di masa sekarang orang-orang menunda pernikahan. Mereka menikah di usia lebih dewasa. 

Apakah pernikahan itu baik atau buruk untuk perempuan? Dari buku yang ditulis Jesse Bernard di tahun 1972, pernikahan heteroseksual memiliki konsekuensi yang berbeda bagi pria dan wanita. Perbandingan dari pria yang menikah dan pria yang tidak pernah menikah menunjukkan pria menikah memiliki skor yang lebih baik pada kesehatan mental dan kesehatan fisik. Skor perempuan menikah lebih buruk daripada skor pria menikah, tetapi skor perempuan yang tidak pernah menikah lebih baik daripada pria yang tidak menikah. Akan tetapi, perlu diingat, ketika buku ini ditulis di tahun 1972 mayoritas perempuan menikah sepenuhnya berada di rumah, berbeda dengan sekarang di mana banyak perempuan tetap bekerja meski sudah menikah. Lantas, bagaimana dengan data penelitian yang lebih baru?

Studi dari Ploubidis et al. (2015) menunjukkan pernikahan heteroseksual memberikan manfaat kesehatan pada pria dan perempuan, meski manfaatnya tidak sama; di Inggris, pernikahan memiliki asosiasi positif pada indikator kesehatan di usia paruh baya, tetapi efeknya lebih besar pada pria daripada perempuan. Sebagai tambahan, data mengindikasikan kesehatan perempuan dan pria yang kohabitasi serupa dengan kesehatan pasangan yang menikah.


Foto oleh Jack Sparrow dari Pexels


Tentu saja tidak semua pernikahan itu sama. Ada pernikahan yang bahagia dengan saling mendukung, komunikasi yang bagus, setara, dan saling menghargai. Ada juga pernikahan yang menyengsarakan dengan tidak memiliki kesamaan dengan pasangan, saling merendahkan satu sama lain, dan abusive

b. Divorce 

Apakah perceraian memiliki dampak yang buruk bagi kesejahteraan psikis dan fisik seseorang? Sebagian besar studi menunjukkan kesejahteraan invididu yang bercerai lebih rendah dibandingkan kesejahteraan psikis dan fisik individu yang menikah. Salah satu faktor yang memengaruhi efek dari perceraian adalah sejarah depresi seseorang. Perceraian bisa menjadi stressor yang signifikan bagi orang-orang yang memiliki riwayat depresi. Jika kamu pernah depresi sebelumnya, perceraian bisa memicu episode depresif lagi dalam hidupmu. 

Konsekuensi ekonomi juga perlu diperhatikan. Sebuah studi perempuan dan perceraian yang dilakukan oleh sosiolog Lenore Weitzman (1986) menunjukkan perempuan yang bercerai dan anak-anaknya menjadi sebuah kelompok kelas rendah yang baru. Ketika pria meningkatkan standar hidupnya menjadi 42% setelah bercerai, perempuan justru menurunkan 73% standar hidupnya.

c. Single Women 

Menurut Biro Sensus AS 28.6% wanita Amerika adalah lajang, tidak pernah menikah. Saya kurang tahu kalau di Indonesia datanya bagaimana. 

Women who are satisfied by long-term single status tend to have (a) satisfying employment that provides economic independence, (b) connections to the next generation through extended family or by mentoring younger people, and (c) a strong network of family and friends who provide support when it is needed (Trimberger, 2005).

d. Motherhood 

Selain menunda usia pernikahan, wanita dewasa ini juga menunda usia untuk memiliki anak. Hasil penelitian menunjukkan meski pernikahan bisa membawa hal positif bagi wanita, tidak demikian dengan menjadi seorang ibu. Menjadi orangtua memiliki emosi yang bercampur-campur bagi wanita. Ia bisa meningkatkan pengalaman positif sebagai ibu, namun menjadi orangtua juga bisa meningkatkan pengalaman negatif dan memperuncing masalah keuangan dan masalah hubungan interpersonal. 

Menjadi ibu merupakan sebuah asumsi dasar akan peran perempuan, tetapi kita suka lupa bahwa masyarakat lah yang menuntut perempuan untuk menjadi ibu. Tekanan tersebut begitu kuat sehingga dapat disebut sebagai motherhood mandate.

Motherhood mandate: A cultural belief that women must become mothers.

Tentu saja tidak semua perempuan menerima tekanan masyarakat untuk menjadi seorang ibu. Sekarang ini semakin banyak perempuan yang memilih untuk tidak hamil dan memiliki anak. Bukti penelitian mengindikasikan tidak ada rasa penyesalan, rasa bersalah, atau stres pada perempuan yang mengambil keputusan ini, tetapi mereka tetap distigmatisasi. Mereka dianggap sebagai perempuan yang kurang hangat dan kondisi psikologisnya kurang terpenuhi jika dibandingkan perempuan yang memiliki anak.

Bagi individu queer dan transgender yang ingin menjadi orangtua memiliki hambatannya sendiri, utamanya terkait kesuburan. Opsi yang tersedia di masa sekarang lebih banyak ketimbang di masa lalu, tetapi tetap saja ada kendalanya sendiri. Biaya yang mahal untuk ART (assisted reproductive technology), mencari donor sperma yang cocok-cocokan, dan tingkat kesuburan dipengaruhi oleh sejarah obat-obatan gender-affirming yang mereka minum. 

e. An Empty Nest 

Apakah yang dimaksud dengan empty nest?

Empty nest: The phase of the family life cycle following the departure of adult children from the family home; also known as the postparental period.

Sebuah tinjauan dari salah studi empty nest menyimpulkan (1) kebanyakan pasangan mengalami peningkatan dalam kualitas pernikahan mereka, terutama bagi perempuan; (2) beberapa wanita mengalami perasaan kehilangan dan kesepian, tetapi sebagian besar merasakan meningkatnya kesejahteraan mereka.

6. Later Adulthood 

Para manula seringkali mengalami diskriminasi yang dinamakan ageism.

Ageism: Negative attitudes toward older adults. 

Stereotip negatif yang sering melekat pada manula adalah mereka pikun, tidak kompeten, dan depresi, hidupnya hanya di masa lalu. 


Foto oleh Anna Shvets dari Pexels


Dari perspektif intersectional pada penuaan mengindikasikan tantangan unik bagi perempuan lansia. Ini dinamakan double standard of aging.

Double standard of aging: Cultural norms by which men’s status increases with age but women’s decreases.

Contohnya, pria yang di usia paruh baya dianggap lebih tampan, tetapi perempuan di usia yang sama dianggap tidak menarik lagi.

a. Grandmotherhood 

Nenek memiliki peran yang penting di kehidupan cucu-cucu mereka. Contohnya, mereka dapat menyediakan dukungan finansial dan emosional. 

b. Gender and Cognitive Aging 

Dari perspektif masa hidup (lifespan) mengingatkan kita bahwa ada yang kita dapatkan di masa perkembangan, tetapi ada yang mau tidak mau kita lepaskan ketika kita sudah tua. Semakin kita tua, kemampuan kognitif kita semakin menurun. Sering kita temui demensia menimpa individu yang sudah lanjut usia. 

Dari beberapa studi dapat disimpulkan bahwa perempuan mengalami penuaan kognitif yang lebih lambat ketimbang pria.

c. Widowhood and Gender Ratios 

Di AS, di rentang usia 60 dan 69 terdapat 110 perempuan untuk setiap 100 pria. Di usia 80 dan 89 terdapat 162 perempuan untuk setiap 100 pria, dan di usia di atas 90 tahun dan lebih tua, terdapat 259 perempuan untuk setiap 100 pria. Sekali lagi, ini data yang ada di AS. Kalau di Indonesia, sekali lagi, saya tidak tahu.

Apa yang menyebabkan angka-angka ini bisa muncul? Salah satu faktor adalah widowhood. Perempuan cenderung untuk menjadi janda ketimbang pria menjadi duda. Alasannya karena harapan hidup pada perempuan lebih tinggi daripada pria dan kecenderungan perempuan untuk menikahi pria yang usianya lebih tua daripada mereka. Ketika pasangan mereka meninggal, perempuan jarang untuk menikah lagi karena tidak mudah bagi mereka untuk mencari pasangan yang seusia dengan mereka, apalagi mau mencari pasangan yang usianya lebih muda. Kalau pria kan, meski sudah lanjut usia masih bisa dengan mudah menikah dengan perempuan yang lebih muda usianya. 

Pria mengalami kesulitan mengatasi kehilangan pasien ketimbang perempuan, yang diukur dari depresi, penyakit, dan kematian. Dengan kata lain, perempuan lebih baik dalam menjalani widowhood. Satu alasan yang memungkinkan adalah perempuan memiliki pertemanan yang dalam yang mereka kembangkan selama bertahun-tahun dan mereka mendapatkan dukungan sosial dari sana. Kemungkinan lainnya adalah perempuan lebih baik ketimbang pria dalam berduka, yaitu bagaimana cara mereka mengekspresikan emosi, kemudian mengatasi dan menyesuaikan diri dalam berduka.

Akhirnya selesai juga rangkuman bab 7 yang sangat panjang ini. Terima kasih buat teman-teman yang bertahan membacanya sampai akhir. Dan seandainya dari pemaparan sejauh ini ada teman-teman merasa "Oh iya, ini kayak saya banget..." dan ingin berbagi pengalaman, atau, barangkali ada yang ingin menambahkan dengan pemikiran yang kalian punya, monggo kolom komentar terbuka lebar untuk kalian. 

Daftar pustaka:
Else-Quest, N. M, & Hyde, J. S. (2018). The psychology of women and gender: Half the human experience (9th edition). United States of America: SAGE Publications, Inc. 

Tulisan sebelumnya:
Share:

2 comments:

  1. Setelah membaca dari atas sampai bawah, keknya di setuiap jenis postingan kek gini bagus juga kalau di akhir ada semacam summary biar para pembaca yang tidak masuk genre ini gak bingung hahahaha

    Kalau aku sih sebagai orang tua hanya bisa membesarkan dan mengembangkan anak sesuai kodrat yang dimilikinya. Sound so tradisional tapi kalau sebuah keluarga memiliki value yang baik, mudah-mudahan si kecil akan berkembang dan tumbuh dengan value yang baik pula.
    *parenting mode on (LOL)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya juga, Mas Didut. Baiklah, mulai postingan yang akan datang akan aku coba buat ringkasannya.

      Btw, yang dimaksud dengan sesuai kodrat di sini apa ya, Mas?

      Delete

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.