Thursday, February 25, 2021

Gender dan Komunikasi

Chapter 5: Gender and Communication

Komunikasi verbal dan nonverbal merupakan inti dari psikologi manusia, ia penting dalam interaksi sosial dan hubungan dengan orang lain juga pikiran kita dan untuk memahami dunia. Pada bab ini kita akan membahas perbedaan komunikasi antara pria dan wanita, baik secara verbal maupun nonverbal, dan bagaimana wanita dan individu nonbiner diperlakukan di dalam bahasa. Kita juga akan belajar bagaimana menggunakan bahasa yang inklusif dan tidak seksis. 

Verbal Communication

Seandainya kalian menemukan secarik kertas dari bungkus entah apa yang bertuliskan: "Sinar matahari terbenam sangat cantik, seperti campuran warna merah muda dan magenta. Iya, kan?" Jika kalian harus menebak gender dari individu yang menulis di kertas tersebut, apa tebakan kalian? Kebanyakan orang akan menebak penulisnya adalah seorang wanita.

Banyak orang memiliki ide penggunaan bahasa yang tipikal atau "sesuai" untuk pria dan wanita. Kata-kata cantik, merah muda, dan magenta sepertinya bukan kata-kata yang dipakai oleh seorang pria. Apakah ide tersebut sebuah stereotip gender yang tidak tepat atau ada kebenaran di dalamnya? Apakah wanita dan pria sungguh berbeda dalam berkomunikasi verbal?


Tentativeness

Studi perbedaan dan persamaan gender dalam bahasa dipelopori oleh Robin Lakoff (1973, 1975), yang berteori bahwa perbedaan gender dalam komunikasi berakar dari peran gender dan kuasa relatif yang masing-masing gender punya. Dengan kata lain, wanita dan pria tidak berbeda dalam berkomunikasi karena mereka berbeda secara bawaan, melainkan mereka berbeda dikarenakan hierarki sosial. Lakoff berargumen pria menggunakan bahasa secara asertif karena mereka memiliki kuasa, sementara wanita lebih cenderung menggunakan bahasa tentatif karena mereka tidak memiliki kuasa. 

Apa itu bahasa tentatif? Menurut Lakoff, bahasa tentatif memiliki empat bentuk atau pola, yaitu mengekspresikan ketidakpastian, hedges, tag question, dan intensifiers. Ekspresi ketidakpastian termasuk disclaimers, seperti, "Saya bisa saja salah, tetapi ..." atau, "Ini hanya opini saya saja, tetapi ..." 

Hedges adalah ekspresi seperti "sort of" atau "kind of" yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "seperti" dan "agak". Tag question adalah sebuah pernyataan yang diakhiri dengan pertanyaan semacam meminta kesepakatan. Contoh: "This painting is beautiful, isn't it?" yang diterjemahkan menjadi "Lukisan ini cantik, ya?" Sementara, intensifiers termasuk adverb atau kata keterangan, seperti very, really, dan vastly. Misalnya, "The governor is really interested in this proposal."

Teori dari Lakoff tersebut menuai kritik. Menurut mereka yang mengkritik, Lakoff terlalu melebih-lebihkan dan terlalu menekankan perbedaan gender tanpa memberikan perhatian yang cukup pada kuasa dan status. Kritik lainnya mengatakan kalau Lakoff terlalu merefleksikan stereotip gender daripada bukti empiris.

Lalu, bagaimana dengan datanya? Campbell Leaper dan Rachael Robnett (2011) melakukan studi meta-analisis untuk memeriksa perbedaan gender dalam empat bentuk dari bahasa tentatif. Hasilnya menunjukkan secara keseluruhan wanita lebih sering menggunakan bahasa tentatif, tetapi perbedaannya terlampau kecil. 

Affiliative Versus Assertive Speech

Deborah Tannen, seorang ahli bahasa, mengajukan teori different cultures hypothesis.

Different cultures hypothesis: Tannen’s perspective that gender differences in communication are so different that it is as though women and men come from different linguistic cultures.

Menurut Tannen, perbedaan gender dalam komunikasi sangat berbeda, seolah-olah wanita dan pria berasal dari budaya bahasa yang berbeda. 

Perspektif Tannen ini berbeda dari Lakoff. Jika Lakoff mendasarkan teorinya pada berkembangnya perbedaan gender ini disebabkan oleh kuasa pria akan wanita, sementara Tannen mengklaim perbedaan gender dalam komunikasi berakar dari perbedaan tujuan yang dipunya antara pria dan wanita ketika mereka berkomunikasi. 

Perbedaan komunikasi ini lahir dari perbedaan gender. Peran wanita menekankan pada nurturing dan relasi, sementara peran pria menekankan pada dominasi dan kekuasaan. Sehingga, peran ini membuat wanita bertujuan untuk membangun dan menjaga hubungan, sementara pria bertujuan untuk menggunakan kontrol, menjaga independensi, dan meningkatkan status. Tannen mengajukan argumen wanita menggunakan bahasa tentatif dan afiliasi, sementara pria menggunakan bahasa asertif dan otoriter. 

Affiliative speech: Speech that demonstrates affiliation or connection to the listener and may include praise, agreement, support, and/or acknowledgment.
Assertive speech: Speech that aims to influence the listener and may include providing instructions, information, suggestions, criticism, and/or disagreement.

Lagi-lagi data -- studi yang dilakukan Leaper dan koleganya -- menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita dalam penggunaan bahasa ini. Dengan kata lain, wanita pun dapat menggunakan bahasa asertif dan pria pun menggunakan bahasa afiliatif. 

Interruptions

Di penelitian-penelitian awal menunjukkan bahwa pria lebih sering memotong pembicaraan wanita dibandingkan wanita yang menginterupsi pria. Ilmuwan sosial yang feminis menafsirkan interupsi ini sebagai sebuah ekspresi kuasa dan dominasi. Yaitu, orang yang menyela dapat mengatur jalannya sebuah percakapan, dan itu merupakan kuasa interpersonal. Dalam perbedaan gender, hal itu menunjukkan pria mengekspresikan kekuasaan dan dominasi atas wanita. 

Peneliti lain memberikan penjelasan alternatif terkait hal tersebut. Menurut mereka interupsi bisa memiliki banyak makna. Ia dapat bermakna sebagai permintaan untuk klarifikasi, juga dapat bermakna sebagai sebuah persetujuan atau dukungan pada orang yang sedang berbicara. Beberapa interupsi dapat diartikan sebagai perbedaan pendapat dengan orang yang berbicara dan interupsi lain dapat mengalihkan subyek pembicaraan. 

Sebuah studi meta-analisis dilakukan untuk melihat hal ini. Studi ini dilakukan Anderson dan Leaper (1998). Hasilnya dapat disimpulkan pola perbedaan gender dalam interupsi bisa bervariasi tergantung konteks dan (mixed-gender group vs. same-gender group, natural conversation vs. laboratory task) dan interupsi memiliki banyak makna selain dominasi.

The Gender-Linked Language Effect

Anthony Mulac (2006) mengusulkan ketika banyak fitur dari komunikasi verbal menunjukkan sedikit perbedaan di antara gender, hal yang terpenting adalah mengelompokkan berbagai fitur tersebut. 

That is, there are feminine and masculine patterns of speech, each with multiple features that show subtle differences on their own but, in combination, are perceived as distinctly gendered.

Hal ini disebut dengan the gender-linked language effect.

Clinical Applications

Teman-teman -- dan saya juga sebenarnya -- mungkin bertanya-tanya apa sih relevansinya the gender-linked language effect dan perbedaan komunikasi lain pada gender? Ada dua alasan mengapa ini penting. Pertama, bahasa sering digunakan untuk membujuk, menyelesaikan masalah, dan untuk terhubung dengan orang lain. 

Kedua, dapat diterapkan di dalam aplikasi klinis, seperti terapi komunikasi. Bagi individu transgender, terapi komunikasi merupakan salah satu komponen dalam transisi mereka. Terapi ini termasuk bekerja sama dengan terapis bahasa untuk mengubah fitur dalam berbicara, seperti vocal pitch, resonansi, intonasi, volume suara, artikulasi, dan fitur lainnya agar cara mereka berbicara selaras dengan identitas gender mereka. 

Nonverbal Communication

Komunikasi nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal. Sekarang coba bayangkan seandainya ada dua orang yang bertanya ke kita, "Hei, kamu apa kabar?" Yang satu bertanya dengan wajah tersenyum, sementara yang satu bertanya dengan wajah galak. Tentu kita akan memaknainya secara berbeda meski dengan pertanyaan yang sama.

Pada umumnya stereotip gender memiliki pandangan bahwa wanita lebih ekspresif secara nonverbal ketimbang pria. Di sini kita akan membahas perbedaan gender dalam komunikasi nonverbal.

Encoding and Decoding Nonverbal Behavior

Menunjukkan atau menyampaikan (encoding) dan menerjemahkan atau membaca (decoding) secara efektif perilaku nonverbal sangat penting dalam interaksi sosial manusia. Apakah pria dan wanita dapat melakukan encoding dan decoding pesan nonverbal ini secara akurat?

Dari hasil studi meta-analisis yang dilakukan menunjukkan kepada kita bahwa wanita lebih akurat dalam menyampaikan pesan nonverbal ketimpang pria (Hall, 1984). Apakah ini berarti pria secara umum tidak ekspresif atau karena ekspresi mereka sulit untuk dipahami? Beberapa bukti penelitian mengindikasikan pria cenderung untuk menekan ekspresi nonverbal mereka, dimulai dari masa remaja, sementara wanita cenderung untuk menguatkan ekspresi mereka. Wanita juga lebih akurat dalam membaca ekspresi nonverbal orang lain. 

Pola perbedaan gender ini ada bukan karena mereka secara lahir berbeda, tetapi karena mereka mengalami tekanan untuk mengikuti peran gender yang ada. Dalam hal ini, wanita berperan di dalam komunitas, atau membangun dan menjaga hubungan sosial, sehingga membutuhkan kepekaan dalam hubungan interpersonal.

Smiling

Di seluruh dunia, wanita lebih banyak tersenyum daripada pria (LaFrence dkk., 2003). Berdasarkan hasil meta-analisis, perbedaan gender dalam hal ini berfluktuasi di sepanjang kehidupan. Tidak ada perbedaan di masa bayi dan anak-anak, tetapi di masa remaja terdapat perbedaan gender yang cukup besar. Perbedaan tersebut menurun di masa dewasa.

Memahami perbedaan gender dalam hal senyum ini memerlukan sebuah pertanyaan kenapa manusia tersenyum. Terkadang, ia mengindikasikan sikap positif, seperti kebahagiaan. Namun, ada kalanya maknanya bisa lebih kompleks. Sebuah senyuman dapat diartikan sebagai sebuah gestur untuk menenangkan dalam berkomunikasi. Misalnya, dulu saya ingat sewaktu Papa merasa takut akan penyakitnya, saya sembari mengelus-elus tangannya, tersenyum, dan bilang, "Tidak apa-apa, Pa. Nanti kita hadapi bareng-bareng. Papa punya kami semua kok."

Senyuman juga dapat menjadi indikator sebuah status: orang yang dominan jarang tersenyum, sementara mereka yang bawahan lebih sering tersenyum. Jadi, wanita bisa saja lebih banyak tersenyum karena merefleksikan status subordinat mereka (Henley, 1977, 1995). Akan tetapi, sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berkontradiksi dengan ini. Meskipun wanita lebih banyak tersenyum dibandingkan pria di dalam studi ini, tetapi individu dengan status lebih rendah (misal karyawan di sebuah perusahaan) tidak banyak tersenyum juga, sama saja dengan yang individu yang dominan.

Tersenyum juga merupakan bagian dari peran wanita, yang mengharuskan untuk bersikap hangat, nurturant, dan sebagai daya tarik fisik. Wanita tersenyum tidak melulu berarti dia bahagia atau merefleksikan perasaan positif, tetapi bisa juga berarti bahwa tersenyum merupakan hal yang pantas untuk dilakukan.

Interpersonal Distance

Di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat, pria memiliki kecenderungan untuk menjaga jarak secara fisik dengan orang lain, sementara wanita lebih nyaman jika mereka berdekatan dengan orang lain. Contohnya, ketika dua orang wanita berinteraksi, mereka cenderung duduk atau berdiri lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan pria.


Foto oleh Christina Morillo dari Pexels


Apa yang menyebabkan perbedaan semacam itu? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, pria menjaga jarak karena tidak mau dianggap salah memberikan sinyal sebagai ketertarikan secara seksual atau romantis terhadap orang lain. Ini merupakan pelanggaran besar bagi pria heteroseksual jika menunjukkan sinyal ketertarikan seksual terhadap pria lain. Kedua, pria dianggap sebagai sebuah ancaman atau berpotensi berbahaya, sehingga kita menjaga jarak dari "wilayah" mereka untuk mencegah terjadinya konflik. Sebaliknya, wanita dianggap sebagai individu yang tidak mengancam dan dianggap aman, sehingga kita tidak terlalu waspada ketika berada di dalam "wilayah" mereka.

Eye Contact

Kontak mata yang terjadi di antara dua orang ketika mereka berbicara bisa merefleksikan pola kuasa dan dominasi. Meski makna dari kontak mata bisa bervariasi di setiap budaya, di budaya Amerika Utara individu dengan status sosial tinggi cenderung untuk melihat lawan bicaranya ketika mereka berbicara. Sementara mereka yang status sosial rendah cenderung untuk melihat lawan bicaranya ketika mereka mendengarkan. Peneliti di area ini menghitung visual dominance ratio.

Visual dominance ratio: The ratio of the percentage of time looking while speaking relative to the percentage of time looking while listening; an indicator of social dominance.

Posture: Expansive or Contractive?

Aspek relevan lain dari komunikasi nonverbal adalah postur tubuh. Orang yang duduk dengan melipat kakinya dan orang yang duduk dengan tidak melipat kaki dimaknai secara berbeda. 

Contractive posture: Sitting or standing with legs together and arms close to the body.
Expansive posture: Sitting or standing with limbs extended away from the body; also referred to as power posing.

Contohnya dari gambar berikut:


klik gambar untuk memperbesar


Wanita cenderung untuk duduk atau berdiri dengan postur contractive dibandingkan pria. Sebaliknya, pria cenderung untuk duduk atau berdiri dengan postur expansive dibandingkan wanita. 

Kenapa wanita cenderung berpostur contractive? Pada beberapa kasus, ini merupakan strategi untuk menghindari anggapan sebagai orang yang membahayakan. Pada kasus lain, ini adalah strategi untuk melindungi tubuh wanita dari tatapan pria.

How Women and Nonbinary People Are Treated in Language

Aspek lain dari komunikasi yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana isu-isu gender diperlakukan di dalam bahasa, misalnya wanita dan orang-orang yang tidak cocok dalam gender binary. Contohnya, individu transgender dan nonbiner sering dideskripsikan secara tidak memadai, tidak lengkap, dan tidak akurat, yang mana membuat mereka merasa terabaikan (Langer, 2011). Untuk individu genderqueer, khususnya, kata ganti he atau she dalam bahasa Inggris kurang sesuai, tetapi menggunakan kata ganti it pun terasa merendahkan. 

Di sini kita akan mendiskusikan pola bahasa yang seksis dan mengapa hal tersebut penting untuk dibahas di Psikologi Wanita dan Gender.

Misgendering

Misgendering terjadi ketika kita menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan identitas gender seseorang atau ketika identitas gender seseorang salah teridentifikasi karena satu dan lain hal. Misgendering biasa terjadi pada wanita yang bekerja di lingkungan yang secara stereotip dianggap sebagai pekerjaan pria dan juga biasa terjadi pada transgender ketika orang-orang profesional di kesehatan mental dan medis melabeli mereka dengan gender mereka saat mereka lahir, bukannya dengan identitas gender mereka.

Misgendering: A form of sexist language in which gendered language that does not match a person’s gender identity is used or when a person’s gender identity is misidentified by some other means.

Ketika seseorang mengalami hal ini, dia akan merasa diabaikan, tidak berharga, terstigmatisasi, dan merasa sakit hati, atau mungkin bisa merasakan yang lebih buruk.

Euphemisms

Menurut KBBI, eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan, misalnya meninggal dunia untuk mati. Kalau di dalam bahasa Inggris, orang cenderung menghindari penggunaan kata woman dan sebagai gantinya menggunakan kata lady dan girl. Kalau di dalam bahasa Indonesia, perempuan untuk wanita. Lebih lengkapnya, teman-teman bisa baca di tautan ini

Infantilizing

Yang dimaksud dengan infantilizing adalah memperlakukan individu -- contohnya, wanita -- seolah-olah mereka anak-anak atau bayi.

Infantilizing: Treating people—for example, women—as if they were children or babies.

Misalnya, pada skenario berbahaya seperti kapal tenggelam, terdapat panduan keselamatan yang berisi "Utamakan wanita dan anak-anak", yang berarti ini sama saja memasukkan wanita ke dalam kategori yang sama dengan anak-anak, alias golongan lemah. Contoh lainnya, ekspresi bahasa untuk wanita, seperti baby atau babe.

Male as Normative and Female as the Exception

Ini biasanya kita temui di buku-buku berbahasa Inggris (mungkin juga di bahasa lain, tetapi berhubung saya cuma bisa bahasa ibu dan bahasa Inggris, jadinya ya sudahlah). Di dalam bahasa Inggris biasa menggunakan terminologi man mengacu pada semua makhluk hidup dan penggunaan he sebagai kata ganti yang netral. Contohnya pada kalimat berikut: The infant typically begins to sit up around 6 months of age; he may begin crawling at about the same time. Male di sini dianggap sebagai hal normatif untuk anggota spesies manusia. Ini dinamakan dengan masculine generics.

Masculine generics: The common usage of masculine forms (e.g., he, his, him) as generic for all people.

Menurut ahli bahasa yang juga feminis, masculine generics adalah contoh dari seksisme di dalam berbahasa. 

Kemudian, ada yang namanya female-as-the-exception phenomenon.

Female-as-the-exception phenomenon: If a category is considered normatively male and there is a female example of the category, gender is noted because the female is the exception; a by-product of androcentrism.

Misalnya, pemberitaan di media tentang Ibu Tri Rismaharini. Beliau dideskripsikan sebagai walikota perempuan. Sementara, Bapak Herman HN, sebagai walikota Bandarlampung, tidak mendapat tambahan deskripsi sebagai walikota pria. 

Gendering of Language

Bahasa di dunia ini berbeda-beda dalam hal gender. Ada bahasa yang memiliki gender, tetapi ada pula bahasa yang natural. Bahasa yang natural, seperti bahasa Inggris dan bahasa Swedia, merupakan bahasa yang sebagian besar kata bendanya gender-neutral. 

Natural gender language: A type of language in which most personal nouns are gender-neutral (e.g., student) but pronouns are differentiated for gender; examples include English and Swedish.

Sebaliknya, bahasa-bahasa seperti bahasa Spanyol, Jerman, Hindi, dan Hebrew adalah bahasa yang memiliki gender. Bahasa-bahasa ini tidak hanya terbatas pada kata ganti orang, melainkan juga pada benda, kata kerja, kata sifat, dan lain-lain. Misalnya, di dalam bahasa Jerman, siswa masuk ke kategori maskulin sehingga menjadi der Student, sementara untuk kata universitas adalah feminin sehingga menjadi die Universit├Ąt

Saya ingat guru les bahasa Jerman saya waktu di kampus dulu pernah bilang tidak ada rumus baku untuk mengategorikan kata-kata mana saja yang feminin dan mana yang maskulin. Satu-satunya cara ya menghafal. Inilah alasan saya malas melanjutkan belajar bahasa Jerman secara mandiri: susah. Ha, ha.

Grammatical gender language: A type of language in which parts of speech (including nouns, pronouns, verbs, adjectives, etc.) are gender-inflected; examples include Spanish, German, Hindi, and Hebrew.

Kemudian, ada genderless language.

Genderless language: A type of language in which gender is expressed only lexically and neither personal nouns or pronouns are differentiated for gender; examples include Finnish, Mandarin, and Turkish.

Does Sexist Language Actually Matter?

Teman-teman mungkin bertanya-tanya memangnya mempelajari semua ini penting? Jawabannya, tentu saja penting. Bahasa memengaruhi cara kita berpikir. Bahasa yang seksis berhubungan erat dengan sikap seksis. Penggunaan masculine generics merefleksikan tidak hanya budaya atau status sosial wanita, melainkan juga sikap personal mengenai gender. 

Beberapa ahli berargumen bahwa bahasa yang seksis adalah sebuah gejala dari sikap seksis dan ketimpangan gender dalam masyarakat. Menggeneralisasi penggunaan kata man dan he mencerminkan sebuah kenyataan kita berpikir bahwa laki-laki sebagai sebuah norma dari spesies manusia dan bahwa kita membawa stereotip gender dan bias di dalam pikiran kita. Artinya, kita menggunakan bahasa yang seksis karena kita berpikir dalam terminologi seksis. Kesimpulan dari sini adalah jika kita mengubah cara berpikir kita, maka bahasa juga ikut berubah.

Ada pandangan alternatif lain dari teori klasik Psikolinguistik, yaitu Whorfian hypothesis.

Whorfian hypothesis: The theory that the language we learn influences how we think.

Toward Nonsexist Language

Dari yang sudah kita bahas mengindikasikan bahasa yang seksis mencerminkan ketimpangan gender di dalam masyarakat dan memiliki efek berbahaya dengan cara kita berpikir. Tidak mengherankan jika feminis menganjurkan penggunaan bahasa yang tidak seksis untuk mengurangi stereotip dan diskriminasi. Karena buku ini menggunakan bahasa Inggris maka contohnya pun dalam bahasa Inggris. Misalnya, menggunakan kata police officer daripada policeman. Contoh dalam kalimat seperti berikut ini:

1. When a doctor prescribes birth control pills, he should first inquire whether the patient has a history of blood clotting problems.
2. When a doctor prescribes birth control pills, he or she should first inquire whether the patient has a history of blood clotting problems.

Bisa dipahami perbedaannya ya?

Hanya saja dari sini pun bisa timbul masalah baru. Penggunaan he or she pada kalimat nomor dua juga harus diimbangi dengan she or he. Karena jika hanya menggunakan he or she, maka wanita tetap menjadi nomor dua. 


Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels


Sebagai tambahan, meski penggunaan he dan she bisa membuat perempuan menjadi lebih tampil, itu juga semacam penegasan kembali akan gender binary, karenanya membuat individu nonbiner terpinggirkan. Sehingga, alternatif lainnya menggunakan kalimat dalam bentuk plural karena dalam bahasa Inggris kata ganti orang jamak tidak menunjukkan gender. Dengan contoh kalimat dari nomor satu di atas, bisa kita modifikasi menjadi:

3. When doctors prescribe birth control pills, they should first inquire whether the patient has a history of blood clotting problems.

Contoh lainnya bisa kita ubah kalimat tersebut menjadi:

4. A doctor prescribing birth control pills should first inquire whether the patient has a history of blood clotting problems.

Dalam kalimat di atas, tidak terlalu menekankan pada penggunaan kata ganti.

Sekarang ini semakin meluas penggunaan they untuk kata ganti orang tunggal jika gender seseorang tidak diketahui atau tidak diidentifikasikan.

Today, there is increasing acceptance of the use of singular they in written English, and its use has long been widespread in spoken English. Singular they is especially useful when someone’s gender is not known or identified.

Dengan kesadaran akan hal ini yang semakin meningkat, kata ganti orang yang netral gender telah diciptakan. Contohnya, satu set kata ganti orang yang sudah diusulkan adalah tey untuk he atau she, tem untuk him atau her, dan ter untuk his atau her

Wah, ini untuk satu bahasa saja sudah panjang begini ya. Ini baru bahasa Inggris lho, yang menurut saya masih dalam kategori bahasa yang mudah. Bagaimana dengan bahasa lain yang lebih njelimet ada feminin dan maskulin, seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol? Untung bahasa Indonesia tidak ribet-ribet banget ya. Meski tetap sih, menurut hemat saya, kita harus mulai memikirkan penggunaan kata ganti untuk individu nonbiner. Jadi, kan, misalnya dalam pidato kita tidak hanya bilang, "Bapak dan Ibu hadirin yang terhormat..." Apakah ada teman-teman yang tahu kata ganti yang sesuai untuk individu nonbiner dalam bahasa Indonesia?

Ternyata menarik juga membahas Bab 5 dengan topik gender dan komunikasi. Saya belajar banyak sekali dari satu bab ini. Saya jadi mengerti kenapa penggunaan kata ganti orang harus sesuai dengan identitas gendernya. "Bahkan," kata teman saya, Ayu, dari obrolan kami via Signal, "Cisgender juga biasanya tidak suka misgender kok. Jadi, sebenarnya bukan berarti yang kasih pronouns cuma genderqueer."

Topik ini kelihatannya receh, padahal tidak juga. Dengan berkomunikasi secara tepat dengan orang lain, baik itu cisgender, transgender, maupun genderqueer, kita telah memanusiakan mereka. Kita menghargai posisi mereka sebagai makhluk Tuhan juga.

Seperti biasa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca rangkuman ini sampai habis. Semoga bermanfaat dan dapat kalian praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa di rangkuman bab berikutnya!

Daftar pustaka:
Else-Quest, N. M, & Hyde, J. S. (2018). The psychology of women and gender: Half the human experience (9th edition). United States of America: SAGE Publications, Inc. 

Share:

0 comments:

Post a Comment

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.