Monday, February 22, 2021

Kebersilangan Gender dan Etnis

Chapter 4: The Intersection of Gender and Ethnicity

Pada tanggal 21 Januari 2017, sekitar 4.2 juta orang berkumpul di Washington untuk protes dengan tajuk Women's March dan lebih dari 600 "sister marches" di seluruh Amerika Serikat. Ratusan ribu orang juga berkampanye di banyak negara. Women's March adalah sebuah respon dari pemilihan presiden di AS tahun 2016, di mana kandidat presiden wanita pertama dalam sejarah AS, Hillary Rodham Clinton, lebih populer, tetapi yang menang pilpres adalah Donald J. Trump, yang terkenal seksis dan rasis. Awalnya ini adalah gerakan anti-Trump, kemudian berkembang menjadi gerakan feminis.

Tujuan dari gerakan Women's March secara eksplisit memang menyampaikan isu-isu feminis, tetapi gerakan ini pada awalnya hanya berakar dari isu yang dihadapi wanita kulit putih. Penyelenggara acara tidak mempertimbangkan akan kebersilangan gender dan etnis. Ketika perspektif dari wanita kulit berwarna, transgender, dan queer dimasukkan ke dalam gerakan, protes tersebut menjadi sebuah ekspresi yang kuat dari tujuan yang sama dan keinginan untuk kesetaraan gender.

Pada kebersilangan gender dan etnis, dapat dengan mudah kita lihat bagaimana orang-orang dari berbagai gender dan kelompok etnis mengalami pengalaman yang berbeda, tetapi juga memiliki banyak persamaan. Wanita kulit putih dan wanita kulit berwarna sama-sama mengalami seksisme. Bagi wanita kulit putih, seksisme tersebut terbantu dengan hak-hak istimewa mereka sebagai orang kulit putih. Namun, bagi wanita kulit berwarna, kombinasi antara rasisme dan seksisme berakibat dengan bahaya dua kali lipat. Sementara itu, bagi individu trans kulit berwarna, mereka mengalami seksisme, cisgenderisme, dan rasisme. Mereka menjadi target dari kekerasan yang berakar kebencian.

Di bab ini penulis utamanya akan fokus pada wanita dan individu trans pada empat besar kelompok etnis di AS, yaitu Afrika-Amerika, Latin, Asia-Amerika, dan Indian Amerika. Bab ini bertujuan untuk memberikan informasi latar belakang tentang budaya dan warisan budaya dari keempat kelompok etnis ini dan ikhtisar dari peran gender yang ada di etnis ini.


Recurring Themes

Dua tema penting akan sering muncul pada bab ini. Tema pertama adalah persamaan dan perbedaan. Dari perspektif kebersilangan (intersectionality), wanita dari berbagai etnis memiliki kemiripan dalam beberapa hal dan perbedaan di hal lain dikarenakan gender dan etnis saling memengaruhi. Mereka mengalami pengalaman yang sama (contoh objektifikasi), meskipun memiliki pengalaman unik yang berbeda satu sama lain (misalnya penggambaran di media dan stereotip). 

Tema kedua adalah penindasan dan kekuatan. Wanita kulit berwarna memiliki warisan sejarah akan penindasan, termasuk perbudakan bagi wanita Afrika-Amerika dan penahanan di kamp penjara bagi wanita Jepang-Amerika pada masa Perang Dunia II. Penindasan dewasa ini termasuk dalam bentuk rasisme, seksisme, dan gendered racism.

Gendered racism: A form of oppression and bias based simultaneously on both gender and race/ethnicity.

Ethnic Group Labels

Sebelum kita melanjutkan materi, terlebih dahulu kita akan membahas beberapa terminologi. 

Hispanic: People of Spanish descent, whether from Mexico, Puerto Rico, or elsewhere.
Latinos: Latin American people; also refers specifically to Latin American men.
Latina: A Latin American girl or woman.
Latinx: A Latin American person, unmarked by gender.
African Americans: Americans of African descent
American Indians: The indigenous peoples of North America. Also called Native Americans.
Asian Americans: Americans of Asian descent.
European American: White Americans of European descent; an alternative to the term Whites. Also, Euro-Americans.

Cultural Heritages of People of Color in the United States

Sebelum kita bisa mempertimbangkan peran gender dan isu-isu individu kulit berwarna dewasa ini, pertama-tama kita harus memahami warisan budaya dan sejarah akan kelompok etnis tersebut. Warisan ini termasuk dari budaya dari tanah asalnya (Afrika, Asia, Amerika Latin), dampak dari proses migrasi karena keterpaksaan dan migrasi sukarela ke Amerika Serikat, dan pengaruh dari budaya Eropa-Amerika di AS.

The Cultural Heritage of Asian American Persons

Populasi individu Asia-Amerika mencapai 6% dari total populasi AS. Secara keseluruhan, orang-orang Asia-Amerika berasal dari empat puluh kelompok etnis yang bicara empat puluh bahasa dan berasal dari lebih dari dua puluh negara. Kelompok terbesar etnis Asia di AS adalah China (22%), India (20%), Filipina (18%), Vietnam (11%), Korea (10%), dan Jepang (5%).


Foto oleh Tún dari Pexels


Orang-orang dari berbagai kelompok etnis ini datang ke AS dengan beragam alasan dan datang pada titik waktu yang berbeda-beda dalam sejarah. Contohnya, orang China -- hampir semuanya pria -- dipekerjakan sebagai buruh pada tahun 1840an. Sebagai respon dari meningkatnya sentimen rasis pada orang China, terdapat pergeseran dalam perekrutan pekerja. Yang direkrut kemudian adalah imigran dari Jepang, Korea, dan Filipina. Dan, selama era Perang Vietnam di akhir tahun 1960an dan 1970an, terdapat eksodus pengungsi besar-besaran dari negara yang pecah akibat perang di Asia Tenggara ke AS.

Dari berbagai kelompok etnis ini, penelitian mengindikasikan orang-orang Asia-Amerika memiliki lima nilai-nilai inti:

1. Collectivism: Others’ needs, especially those of the family, should be considered before one’s own needs.
2. Conformity to norms: Individuals should conform to the expectations of their family and society.
3. Emotional control: Emotions should be controlled and not openly expressed.
4. Family recognition through achievement: One’s educational success brings honor to the family, and one’s educational failure brings shame.
5. Humility: One should be humble and never boastful.

Bagi orang-orang Asia-Amerika, keluarga adalah sumber utama dalam mendapatkan dukungan emosi. Buat mereka, yang dimaksud keluarga tidak hanya terdiri dari keluarga inti saja, melainkan juga nenek moyang dan keluarga dari masa depan. Individu memiliki kewajiban pada keluarga dan kepentingan keluarga harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain, terutama keluarga, itu sangat penting. Rasa malu dan ancaman akan kehilangan harga diri, yang bisa terjadi pada individu dan keluarganya, merupakan faktor kuat dalam membentuk perilaku yang baik. Biasanya apa yang terlihat sebagai sebuah sikap pasif di orang-orang Asia-Amerika sebenarnya merefleksikan sebuah usaha sadar untuk menjaga martabat dan harmoni.

Ada banyak sekali contoh diskriminasi terhadap kelompok Asia-Amerika. Mungkin contoh yang paling mencolok adalah penahanan orang-orang Jepang-Amerika pada masa Perang Dunia II. Lebih dari seratus ribu orang Jepang-Amerika (sebagian besar dari mereka adalah warga AS) dirampas propertinya, dipaksa untuk relokasi, dan bahkan ada yang sampai di penjara di AS.

The Cultural Heritage of Latinx Persons

Berdasarkan Biro Sensus AS (2015), hampir 18% dari total populasi di AS mengidentifikasikan diri mereka sebagai Hispanik. Latar belakang mereka sebagai berikut: 63% Meksiko, 9% Puerto Rico, 4% Kuba, 3% Dominika, dan 13% dari negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan lainnya. 


Foto oleh Davis Sanchez dari Pexels


Untuk memahami budaya Latin, dua faktor signifikan adalah bilingualisme dan pentingnya sebuah keluarga. Bilingualisme, atau menguasai dua bahasa, itu penting karena anak-anak Latin tumbuh dalam dua bahasa, yang itu berarti dua budaya. Seringnya, bahasa Spanyol digunakan di rumah dan bahasa Inggris dipakai di lingkungan sekolah dan kantor.

Kehidupan sehari-hari Latin terfokus pada keluarga. Ini menunjukkan perilaku familismo

Familismo: In Latinx culture, a sense of obligation and connectedness with both one’s immediate and extended family.

Orang-orang Latin menempatkan di urutan tertinggi loyalitas keluarga dan kehangatan, juga hubungan yang suportif. Mereka sangat mementingkan solidaritas keluarga dan ikatan pada keluarga besar. Hasilnya, anak-anak tidak hanya diurus dan dibesarkan oleh ibu mereka, melainkan juga oleh bibi dan nenek.

Mayoritas orang Latin lahir di AS, yaitu sekitar 65%. Sisanya, sekitar 35% lahir di luar AS.

The Cultural Heritage of American Indian Persons

Populasi orang-orang Indian-Amerika dan penduduk asli Alaska sekitar 1.2% dari total populasi AS. Orang Indian-Amerika terdiri dari 550 suku dan Alaska terdiri dari 220 desa asli. Masyarakat Indian "dijajah" oleh orang-orang Eropa-Amerika, sehingga banyak praktik budaya Indian sekarang menyerupai budaya Eropa-Amerika sebagai akibat dari akulturasi yang dipaksakan, Kristenisasi, dan perubahan ekonomi.


gambar dari sini


Trauma sejarah merupakan konsep penting jika kita ingin berdiskusi soal Indian-Amerika.

Historical trauma: Cumulative psychological wounding over generations resulting from massive group trauma.

Bagi orang-orang Indian-Amerika, trauma sejarah ini dimulai dari invasi dan kolonisasi oleh bangsa Eropa di tahun 1700an dan 1800an, pembunuhan orang asli Indian yang tidak terhitung banyaknya, dan dipaksa untuk tinggal di daerah reservasi. Para wanita disteril tanpa izin dan anak-anak diambil secara paksa. Anak-anak dikirim ke institusi di mana mereka diperlakukan secara semena-mena dan dihukum karena berbicara dalam bahasa ibu mereka. Tujuannya agar mereka berasimilasi ke dalam budaya Kulit Putih. Trauma sejarah ini masih berlanjut hingga saat ini. 

Dunia Roh (Spirit World) penting bagi kehidupan suku Indian, terutama bagi wanita Indian. Wanita dianggap sebagai sebuah perpanjangan dari Spirit Mother dan sebagai kunci keberlangsungan dari masyarakat. Hal penting lainnya bagi Indian-Amerika adalah hubungan yang harmonis dengan alam.

Thus American Indian women see themselves as part of a collective, fulfilling harmonious roles in the biological, spiritual, and social realms: Biologically, they value being mothers; spiritually, they are in tune with the Spirit Mother; and socially, they preserve and transmit culture and are the caretakers of their children and relatives.


The Cultural Heritage of African American Persons

Lebih dari 13% penduduk AS mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kulit Hitam atau Afrika-Amerika. Terdapat variasi subkultur dari orang-orang Kulit Hitam. Yang harus diperhatikan adalah apakah individu yang lahir di AS merupakan keturunan dari Kulit Hitam yang didatangkan secara paksa ke AS untuk dijadikan budak atau dari mereka yang datang secara sukarela, seperti dari Karibia dan Afrika.


Foto oleh Charlotte May dari Pexels


Banyak faktor yang membentuk warisan budaya dari individu Afrika-Amerika, termasuk dari budaya asli Afrika dan pengalaman dari perbudakan dan penindasan ras yang berlanjut sampai sekarang di AS. Dewasa ini, dua karakteristik peran dari wanita Afrika-Amerika: peran penting dalam ekonomi dan peran dalam membentuk hubungan antara ibu dan anak. 

Konsep dari trauma sejarah juga berlaku bagi individu Afrika-Amerika. Mereka telah melalui sejarah panjang perbudakan, pembunuhan massal (lynching), segregasi, bahkan sampai saat ini masih mengalami rasisme.

Gender Roles and Ethnicity

Prinsip dasar dari kebersilangan adalah gender dan ras/etnis saling berhubungan. Peran gender terkonstruksi dalam konteks budaya dari kelompok etnis tertentu dan sistem politik yang luas, jadi tidak mengejutkan sebetulnya jika kita melihat ada persamaan dan perbedaan muncul pada peran gender di lintas ras/etnis. Lebih lanjut, kita harus ingat bahwa peran gender yang ketat, yang berakar dari gender binary, akan menciptakan sebuah tantangan bagi mereka yang transgender dan queer. 

Gender Roles Among American Indian Persons

Studi-studi awal yang dilakukan oleh antropolog merupakan contoh kesalahpahaman dalam memahami peran wanita pada budaya Indian-Amerika. Hasil studi mereka menunjukkan betapa bias gender dan bias ras dengan mudahnya dapat memengaruhi hasil penelitian di studi ilmu sosial. Sebagai permulaan, penelitinya adalah pria dan non-Indian. Dengan demikian, mereka berfokus pada aktivitas yang dilakukan oleh para pria dan memiliki akses luas pada informan laki-laki. Stereotip dikotomi yang ada pada wanita Indian adalah mereka antara seorang putri atau seorang wanita rendahan, seperti wanita suci/pelacur dikotomi pada wanita jaman Victoria.

Sebagai tambahan, karena antropolog yang datang bukan orang Indian, maka mereka hanya diperbolehkan untuk mengobservasi perilaku di tempat publik dan bagaimana orang Indian berinteraksi dengan orang asing. Berhubung, di beberapa suku, berinteraksi dengan orang luar merupakan aktivitas yang hanya boleh dilakukan oleh pria, para peneliti menilai terlampau tinggi akan kuasa pria di dalam suku tersebut. Mereka tidak melihat bagaimana interaksi yang dilakukan oleh wanita dan peran mereka yang berharga di dalam suku. Di beberapa suku memiliki sistem matrilineal di mana wanita berhak untuk memiliki properti yang dapat diwariskan kepada anak perempuannya. Dengan sejarah panjang kekejaman orang Kulit Putih terhadap suku Indian, membuat wanita Indian memiliki kesulitan untuk memercayai orang asing. Kesimpulannya, peneliti hanya memiliki bayangan yang samar dan penilaian yang kurang tepat akan apa sebenarnya peran wanita Indian-Amerika.

Contohnya, dilaporkan bahwa pada periode menstruasi, wanita Indian diisolasi dari suku mereka. Mereka ditempatkan di gubug khusus. Wanita yang sedang menstruasi dianggap wanita yang terkontaminasi atau ternoda. Interpretasi berbeda diberikan oleh penulis Indian. Menurutnya, wanita yang sedang menstruasi bukan dijauhi atau diisolasi dan dianggap tidak suci, tetapi justru mereka dianggap sebagai wanita yang sangat kuat, dengan kapasitas mampu untuk menghancurkan. Kekuatan spiritual wanita dianggap paling kuat pada periode menstruasi dan wanita pada umumnya dianggap memiliki kekuatan luar biasa di periode ini, yang saking kuatnya mereka dapat melemahkan kekuatan para pria. Interpretasi ini penting, dari yang tadinya wanita dianggap lemah menjadi wanita yang sangat kuat.

Oke, ini pendapat saya pribadi. Kedua interpretasi ini sama bermasalahnya. Saya tidak akan membahas interpretasi wanita menstruasi adalah wanita tidak suci. Itu sudah terlalu jelas. Akan tetapi, wanita menstruasi adalah wanita kuat, yang saking kuatnya dapat mengalahkan pria? Satu, interpretasi ini berkesan positif, yaitu bahwa wanita menstruasi itu wanita kuat. Pada kenyataannya, interpretasi ini sama berbahayanya dengan interpretasi wanita menstruasi itu wanita tidak suci. Karena interpretasi ini menganggap wanita menstruasi merupakan wanita yang sangat kuat sehingga harus ditakuti karena dia dapat melemahkan kekuatan pria. Dengan kata lain wanita menstruasi itu wanita yang menghancurkan. Apa bagusnya menginterpretasikan wanita menstruasi sebagai wanita penghancur? Bukankah justru semakin membuat negatif pandangan terhadap wanita?

Kedua, interpretasi ini sepertinya dari seorang pria juga. Kenapa saya berkata demikian? Karena interpretasi tersebut bilang: Kekuatan spiritual wanita dianggap paling kuat pada periode menstruasi dan wanita pada umumnya dianggap memiliki kekuatan luar biasa di periode ini, yang saking kuatnya mereka dapat melemahkan kekuatan para pria. Ini sebuah ketakutan bagi pria untuk dikalahkan oleh wanita.

Saya sedikit mengalami kesulitan untuk memahami kenapa penulis mengganggap interpretasi kedua itu lebih baik daripada interpretasi pertama, apalagi ini berasal dari buku dengan topik feminisme, gender, kesetaraan, dan sejenisnya. Asumsi saya, seharusnya, buku ini mengajarkan pada kita tentang kesetaraan gender. Cuma ya sudahlah. Mari kita lanjutkan saja rangkumannya.

Jadi, peran wanita Indian-Amerika itu menekankan pada kolektivitas dan harmoni pada dunia spiritual, keluarga dan suku, dan alam. Semakin bertambah usia seorang wanita maka status sosialnya akan semakin meningkat. Wanita yang sudah tua dihormati karena dianggap memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang luas akan sejarah terkait suku mereka, penyembuhan, dan hal-hal yang suci. 

Bukti menunjukkan pada beberapa suku Indian memiliki sistem egaliter akan peran gender. Di suku lain, seperti suku Canadian Blackfeet, wanita bebas untuk mengekspresikan trait maskulin atau berpartisipasi dalam kegiatan yang secara stereotip merupakan aktivitas pria, dan mereka dipersilakan untuk tetap menjalankan hidup dan berpakaian selayaknya wanita. Terdapat juga peran pejuang wanita di suku Apache, Crow, Cheyenne, Blackfoot, dan Pawnee.

Gender Roles Among African American Persons

Bagi wanita Afrika-Amerika, berbagai peran yang dijalani adalah sebagai orangtua, pekerja, dan pasangan. Wanita Kulit Hitam secara umum diharapkan untuk dapat memiliki pekerjaan. Ekspektasi ini merupakan konsekuensi dari pendidikan dan pencapaian pekerjaan mereka. 

Pendekatan kebersilangan menunjukkan, dari lintas kelompok etnis, wanita memiliki pengalaman berbeda. Sebagai contoh, di tahun 2015, 49.5% wanita single menjadi kepala keluarga di keluarga Kulit Hitam (keluarga dengan anak usia di bawah 25 tahun), dibandingkan dengan 16.3% keluarga Kulit Putih. Kesenjangan ini semakin lebar seiring waktu. 

Sama seperti di budaya Indian-Amerika, wanita tua Afrika-Amerika memiliki peran yang berharga. Mereka lebih dihormati dan dapat berperan lebih banyak seperti membantu mengurus cucu juga memberikan nasihat berdasarkan pengalaman. 

Gender Roles Among Asian American Persons

Terdapat lima stereotip wanita Asia-Amerika. Pertama, wanita Asia-Amerika dianggap wanita yang patuh, berawal dari status wanita yang rendah di negara-negara Asia, seperti China dan Jepang. Kedua, wanita Asia-Amerika adalah exotic sex toys. Ketiga, stereotip Dragon Lady, sebuah stereotip di mana wanita Asia-Amerika dianggap sebagai wanita kejam. Contohnya, Tiger Mother. Keempat, sexless worker bee, wanita bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan garmen. Kelima, China doll, sebuah ungkapan di mana wanita Asia-Amerika itu rapuh dan polos.

Gender Roles Among Latinx Person

Peran gender sangat kaku di budaya tradisional Latin Amerika. Peran gender dibentuk sejak mereka masih kecil dan terus berlaku hingga mereka dewasa. Contohnya, anak laki-laki diberikan kebebasan lebih besar, didorong untuk melakukan eksploitasi seksual, dan tidak diperbolehkan untuk bekerja di dapur. Sementara, anak perempuan diajari untuk pasif, patuh, feminin, dan tinggal di rumah untuk mengurus rumah tangga.

Peran tradisional ini dilambangkan sebagai kultural yang ideal dari machismo dan marianismo.

Machismo: The ideal of manliness in Latinx culture.
Marianismo: The ideal of womanliness in Latinx culture.

 

Immigration

Membicarakan kelompok orang-orang kulit berwarna ini tidak terlepas dari topik imigrasi. Secara umum, orang-orang yang pindah ke AS dari negara lain dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok berdasarkan status mereka: 
1. imigran legal (dokumentasi persyaratan imigrasi lengkap)
2. imigran ilegal (tidak memiliki dokumen persyaratan)
3. pengungsi (mereka yang melarikan diri dari negaranya dikarenakan persekusi, perang, atau kejahatan)

Ada konsep psikologis penting terkait imigrasi ini. Yaitu: 

Acculturation: A multidimensional process of psychological and behavioral change one undergoes as a result of long-term contact with another culture, including the adoption of that culture’s values, customs, norms, attitudes, and behaviors.

Proses akulturasi ini menyebabkan stres, terutama jika terdapat konflik antara budaya asli pengungsi dan budaya setempat.

Acculturative stress: Specific stress of the acculturation process.

 

Education

Tabel di bawah menggambarkan pencapaian edukasi di AS.


Tabel 1
klik gambar untuk memperbesar


Terdapat dua kesimpulan yang dapat ditarik, yaitu:
1. Gender dan ras merupakan faktor kuat dalam dinamika di kelas, baik di sekolah dasar maupun di kampus. Wanita kulit berwarna mungkin menerima stereotip yang tidak meningkatkan prestasi akademik mereka dan kepercayaan diri mereka dalam kompetensi akademik.
2. Dengan pengecualian Asia-Amerika, wanita kulit berwarna di AS tidak menyelesaikan kuliah mereka atau mengejar pendidikan sarjana pada persentase tertentu jika dibandingkan dengan mereka yang Kulit Putih. Kurangnya pendidikan ini berakibat pada susahnya mereka mencari pekerjaan dan terbatasnya pendapatan yang dapat mereka hasilkan. 

Mental Health Issues

Rasisme juga meresap di dalam sejarah psikologi klinis dan pengobatan yang diberikan pada orang-orang kulit berwarna di AS. Contohnya, di tahun 1840, orang-orang Afrika-Amerika di negara bagian di Utara lebih banyak didiagnosa psikopatologi dibandingkan mereka yang berada di negara bagian di Selatan. 

Di awal tahun 1900an, para psikolog mengajukan teori yang melanggengkan stereotip ras. Contohnya, menurut teori orang-orang Afrika-Amerika digambarkan sebagai individu yang happy-go-lucky dan karenanya kebal terhadap depresi. Bias ini berlanjut sampai abad ke-20, ketika orang-orang Afrika-Amerika yang depresi malah didiagnosis dengan schizofrenia. 

Dan masih banyak contoh lainnya.

Feminisms of Color

Feminisms of color cenderung kritis pada feminis Kulit Putih yang fokusnya hanya pada pengalaman wanita yang "universal", misalnya kebebasan reproduksi, sementara mereka mengabaikan keberagaman dalam pengalaman wanita dari berbagai etnis dan melupakan bahwa mereka memiliki keistimewaan sebagai orang Kulit Putih.

Oleh karena itu, muncul perspektif feminis, seperti:

Womanism: Feminism rooted in the lived experience of Black women and women of color; also Black feminism.
Mujerismo: Feminism rooted in the lived experience of Latinas; Latina womanism.

Setelah membaca rangkuman ini, saya paham jika teman-teman merasa bahwa buku ini kurang mewakili kondisi di Indonesia karena buku ini menggunakan Amerika Serikat sebagai bahan diskusi. Hal itu wajar karena penulis buku ini, Nicole M. Else-Quest dan Janet Shibley Hyde, berdomisili di AS. Else-Quest merupakan seorang associate professor di University of North Carolina, sementara Hyde bekerja sebagai professor di University of Wisconsin–Madison. Meski demikian, saya berharap rangkuman ini tetap dapat memberikan wawasan baru kepada teman-teman semua. Siapa tahu bisa membangkitkan rasa penasaran teman-teman bagaimana keadaan sebenarnya terkait studi gender di Indonesia.

Akhirul kalam, terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca rangkuman ini sampai habis. Sampai jumpa di rangkuman Bab 5 berikutnya!

Daftar pustaka:
Else-Quest, N. M, & Hyde, J. S. (2018). The psychology of women and gender: Half the human experience (9th edition). United States of America: SAGE Publications, Inc. 

Tulisan sebelumnya:
Share:

0 comments:

Post a Comment

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.