Sunday, February 14, 2021

Stereotip Gender dan Perbedaan Gender

Chapter 3: Gender Stereotypes and Gender Differences

Beberapa orang percaya bahwa kita sekarang sudah berada di era posfeminis, sebuah masa di mana seharusnya berbagai stereotip gender sudah punah, dan baik wanita maupun pria seharusnya bebas menjadi apa saja yang mereka inginkan.

Kalau memang demikian, mengapa ada saja orang-orang yang merasa tidak nyaman jika melihat seorang pria kemayu? Mengapa sebagian orang merasa terganggu ketika melihat seorang transgender atau genderqueer? Saking terganggunya mereka, sampai satu titik di mana mereka mengajukan permohonan kepada wakil rakyat di Amerika sana untuk membuat undang-undang kamar kecil, sebuah undang-undang yang berisi tentang toilet umum yang dapat atau tidak dapat para transgender dan genderqueer gunakan.


Foto oleh Anna Shvets dari Pexels


Sayang sekali, meski sebagian dari kita percaya kalau kita berada di era posfeminis, pada kenyataannya stereotip gender dan peran-peran gender masih tertanam kuat di budaya kontemporer saat ini. Kita masih melihat diskriminasi terjadi terhadap mereka (transgender dan genderqueer). 

Gender Stereotypes

Stereotypes About Men and Women

Kita sudah pernah belajar tentang stereotip sebelumnya di rangkuman Prasangka. Jika teman-teman sudah lupa dengan bab 9 dari buku Social Psychology karangan David G. Myers, teman-teman bisa klik tautan tersebut untuk menyegarkan kembali ingatan. 

Sekarang kita sudah tahu apa itu stereotip, tetapi apa yang dimaksud dengan stereotip gender? Definisinya adalah sebagai berikut:

Gender stereotypes are simply a set of shared cultural beliefs about men’s and women’s behavior, appearance, interests, personality, and so on. 

Beberapa stereotip gender ini seperti di tabel berikut:


Tabel 1
klik untuk memperbesar gambar


Kenapa manusia memberikan stereotip kepada orang lain? Menurut Kunda dan Spencer (2003), ada dua tujuan dasar yang ingin diraih dalam hal ini, yaitu tujuan pemahaman (comprehension) dan tujuan untuk meningkatkan diri sendiri (self-enhancement). 

Untuk tujuan pertama, ketika kita bertemu untuk pertama kalinya dengan seseorang, kita cenderung punya asumsi terhadap orang tersebut dan kita ingin mengetahui apakah asumsi kita benar. Misalnya, sudah tertanam di otak kita bahwa tugas laki-laki adalah menafkahi keluarganya. Dan ketika kita bertemu dengan seorang pria, pertanyaan pembuka biasanya, "Kerja di mana?" bukan, "Kamu bapak rumah tangga ya?" Ketika orang melakukan stereotip dengan tujuan seperti ini, stereotip yang muncul bisa positif dan bisa pula negatif. Mereka hanya berusaha untuk lebih memahami orang tersebut. Bahasa mudahnya, yah, kepo begitulah. 

Sementara untuk tujuan kedua, stereotip yang kita punya biasanya negatif. Salah satu cara untuk membuat kita merasa lebih baik adalah dengan merendahkan orang lain. Contohnya, ketika kita, sebagai orang dewasa, berpikir bahwa remaja itu sungguh tidak bertanggung jawab, implikasinya adalah kita -- orang dewasa -- merupakan orang yang bertanggung jawab.

Ada yang namanya stereotip implisit (implicit stereotypes). 

Implicit stereotypes: Learned, automatic associations between social categories (e.g., female) and other attributes (e.g., nurse but not mathematician).

Berhubung stereotipe implisit ini sudah kita pelajari dan tertanam di otak, maka terjadinya juga secara otomatis. Misalnya, kita kemungkinan besar mengasosiasikan wanita dengan pekerjaan, seperti perawat, guru, dan sekretaris, bukan dengan pekerjaan, seperti astronot, mekanik, dan ahli matematika.

Intersectionality and Gender Stereotypes

Pendekatan intersectionality menunjukkan kepada kita bahwasanya stereotipe gender yang ada di setiap kultur bisa saja berbeda. Tabel di bawah ini adalah contohnya.


Tabel 2
klik gambar untuk memperbesar


Stereotype Threat

Sebuah stereotip bukan hanya sekadar sebuah ide yang abstrak. Dia bisa bermanifestasi menjadi sebuah perilaku diskriminatif yang menyakitkan, bahkan bisa membahayakan. Psikolog Claude Steele menemukan sebuah fenomena yang dia namakan dengan ancaman stereotip (stereotype threat). 

Stereotype threat: A situation in which there is a negative stereotype about a person’s group, and the person is concerned about being judged or treated negatively on the basis of that stereotype.

Ancaman stereotip adalah ketika ada sebuah stereotip negatif mengenai kelompok seseorang dan orang tersebut sangat risau atau khawatir akan dinilai atau diperlakukan secara negatif berdasarkan stereotip tersebut.

Contoh dari penelitian Steele mengenai stereotip etnis, spesifiknya penelitian tentang stereotipe intelektualitas orang-orang ras Afrika-Amerika itu rendah. Dalam satu eksperimen, dia melakukan sebuah tes kepandaian verbal dengan partisipannya adalah mahasiswa kulit hitam dan kulit putih yang semuanya adalah mahasiswa berbakat dari kampus Stanford. Setengah dari setiap kelompok diberitahu bahwa tes yang mereka kerjakan adalah tes inteligensi, sementara setengahnya lagi diberitahu bahwa itu bukan tes inteligensi.

Bagi mahasiswa kulit hitam yang diberitahu bahwa tes tersebut mengukur inteligensi ternyata mereka menunjukkan performa yang buruk dibandingkan mahasiswa kulit hitam yang diberitahu bahwa tes tersebut tidak mengukur tes inteligensi. Sementara, hasil tes mahasiswa kulit putih tidak terpengaruh dari pemberitahuan apakah tes tersebut mengukur inteligensi atau tidak. Hal ini memberitahu kepada kita bahwa efek yang terjadi pada mahasiswa kulit hitam menunjukkan ancaman stereotip.

Penelitian lain dilakukan untuk melihat apakah ancaman stereotip juga berpengaruh pada stereotip gender, khususnya, stereotip yang bilang kalau wanita itu sangat lemah di Matematika. Penelitiannya kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh Steele di atas, tetapi bedanya di sini setengah dari para partisipan diberitahu bahwa tes Matematika ini sudah pernah dilakukan sebelumnya dan hasilnya terdapat perbedaan antara pria dan wanita, sementara setengah lagi diberitahu bahwa tidak ada perbedaan hasil antara pria dan wanita dalam tes tersebut.

Hasil dari penelitian tersebut sama seperti penelitian Steele. Ketika partisipan diberitahu bahwa terdapat perbedaan hasil tes antara pria dan wanita, hasilnya partisipan wanita menunjukkan performa buruk dibandingkan partisipan wanita yang diberitahu tidak ada perbedaan hasil tes antar gender. Padahal para partisipan ini adalah mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki latar belakang kemampuan Matematika setara. Stereotip tentang wanita dan Matematika membuat buruk performa wanita. 

Bagaimana dengan wanita Asia-Amerika dan Matematika? Sebagai wanita, stereotipnya adalah mereka tidak jago Matematika. Akan tetapi, sebagai seorang Asia-Amerika, mereka diasumsikan ahli dalam Matematika. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan ketika wanita Asia-Amerika diberikan priming identitas etnis mereka, maka mereka memberikan performa yang lebih baik dalam tes Matematika. Sebaliknya, ketika mereka diberi priming identitas gender mereka (bahwa mereka perempuan), performa mereka dalam mengerjakan tes Matematika menjadi lebih buruk. 

Terdapat dua proses psikologis yang mendasari efek ancaman stereotip ini. Dua proses tersebut adalah:

1. Performa buruk sebagai akibat dari tekanan berlebih untuk berhasil. Orang-orang yang berada dalam situasi ancaman stereotip biasanya termotivasi untuk membuktikan bahwa stereotip negatif tersebut tidak benar. Tekanan semacam ini kadang berhasil, tetapi kadang juga tidak. Berhasil untuk tugas atau tes yang mudah dan gagal untuk tugas yang sukar. Karena tekanan yang muncul bisa menguras kapasitas kemampuan otak, yang mana diperlukan untuk mengerjakan tugas atau tes sulit yang terkait dengan intelektualitas.

2. Performa buruk sebagai akibat dari ancaman terhadap self-integrity dan perasaan belonging. Ancaman stereotip bisa mengancam perasaan keberhargaan diri (self-worth) seseorang. Untuk melindungi diri sendiri, seseorang bisa saja terlibat dalam aktivitas yang menyabotase diri mereka, seperti membuat target yang rendah karena mereka tidak mau gagal, yang menyebabkan mereka tidak bisa memaksimalkan potensi mereka. Ancaman stereotip bisa juga mengurangi perasaan memiliki dalam sebuah kelompok, mengurangi motivasi mereka, dan mungkin saja membuat mereka menarik diri dari situasi yang mengancam tersebut.

Ada satu strategi intervensi untuk menetralisir keadaan dari ancaman stereotip tersebut. Strategi tersebut, yaitu dengan memandu individu untuk merekonstruksi situasi yang mengancam tersebut menjadi sedikit atau berkurang seramnya. 

Stereotypes About Trans Individuals

Beberapa stereotip tentang individu yang transgender, seperti mereka gay atau lesbian dan mengidap penyakit mental. Para psikolog mulai merancang intervensi untuk mengurangi prasangka terhadap transgender. Contohnya, di salah satu kasus, seorang psikolog mendesain sebuah intervensi yang bertujuan pada memanusiakan (humanizing) transgender dan mengambil sudut pandang dari transgender. Partisipan (mahasiswa) diminta untuk menonton sebuah video tentang Jazz, seorang anak yang transgender. Tujuannya, video tersebut diharapkan dapat memanusiakan anak-anak trans bagi partisipan. Kemudian, mereka diminta untuk menulis sebuah surat kepada orangtua mereka. Isi surat tersebut mereka diminta untuk membayangkan sebagai seorang transgender dan membuat pengakuan kepada orangtua mereka bahwa mereka seorang transgender.


Foto oleh Sharon McCutcheon dari Pexels


Psychological Gender Differences

Pada seksi ini kita akan membahas perbedaan gender, yang berfokus pada perilaku agresif, impulsif, aktivitas, self-esteem, perilaku menolong, dan kecemasan.

Aggressive Behavior

Definisi agresi adalah sebuah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain. 

Aggression: Behavior intended to harm another person.

Perbedaan gender ini mulai muncul pada usia sekitar dua tahun, ketika anak-anak sudah bermain dengan temannya. Anak laki-laki lebih besar kemungkinan untuk menunjukkan perilaku agresif secara fisik (physical aggression) daripada anak perempuan.

Selain, penyerangan secara fisik, ada juga relational aggression, yang lebih sering ditunjukkan oleh anak perempuan ketimbang anak laki-laki.

Relational aggression: Behavior intended to hurt others by damaging their peer relationships. Also termed indirect aggression.

Relational aggression adalah sebuah perilaku yang berujuan untuk menyakiti orang lain dengan cara menghancurkan hubungan personalnya dengan teman-temannya. Perilaku ini juga disebut dengan serangan tidak langsung (indirect aggression).

Apa yang menyebabkan perbedaan gender dalam agresi? Seperti biasa, debatnya antara nature dan nurture. Bagi pendukung teori nature, perbedaan gender dalam agresi disebabkan oleh perbedaan fisik antara pria dan wanita, di mana pria secara fisik cenderung lebih kekar dan lebih kuat dibandingkan wanita, juga perbedaan tingkat hormon testosteron antara pria dan wanita.

Sementara bagi pendukung teori nurture, mereka berargumen terdapat beberapa faktor lingkungan memengaruhi perbedaan gender tersebut. Pertama, sifat agresif merupakan unsur penting bagi peran pria di masyarakat, sementara jika wanita memiliki sifat agresif maka itu adalah sebuah pencemaran karena tidak seharusnya wanita bersifat agresif. 

Kedua, anak-anak cenderung untuk mengimitasi perilaku yang berjenis kelamin sama dengan mereka. Mereka bisa belajar dari televisi dan film. Misalnya, anak laki-laki akan lebih meniru perilaku pria dewasa, yang agresif, dan anak perempuan akan lebih meniru perilaku perempuan dewasa, yang tidak agresif.

Ketiga, dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki mendapatkan lebih banyak insentif positif (rewards) dan bukannya hukuman untuk perilaku agresif mereka. Biasanya komentar yang muncul ketika melihat seorang anak laki-laki berperilaku agresif, "Yah, namanya juga anak cowok. Wajar main berantem-beranteman begitu. Bagus malah. Biar gedenya jadi jagoan." Anak laki-laki juga mendapatkan insentif positif dalam bentuk meningkatnya status atau penghargaan yang diberikan oleh teman-temannya karena "sudah menjadi jagoan". Kalau anak perempuan, mereka justru dijauhi dari teman sebayanya jika mereka berperilaku agresif.

Impulsivity

Impulsif di sini mengacu pada kecenderungan untuk bertindak secara spontan dan tanpa berpikir dengan cermat. Salah satu stereotip perbedaan gender terkait impulsif ini, yaitu pria adalah seorang pengambil risiko yang impulsif dibandingkan wanita. Beberapa aspek dari impulsif, di antaranya:

reward sensitivity (being especially likely to do something because it will feel good right now), sensation seeking, risk taking, and impulse control (the opposite of impulsivity, i.e., being able to control one’s actions).

Activity

Stereotipnya terkait aktivitas ini adalah anak laki-laki lebih aktif daripada anak perempuan. Apa yang menyebabkan perbedaan ini? Satu kemungkinan, yaitu anak laki-laki lebih aktif bermain dengan mereka yang berjenis kelamin sama dibandingkan dengan anak perempuan. Kemungkinan lainnya, yaitu anak perempuan lebih cepat dewasa dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan cenderung lebih cepat dalam perkembangan, termasuk dalam perkembangan otak. Semakin besar anak tumbuh, semakin mereka belajar untuk mengontrol aktivitas mereka.

Self-Esteem

Definisi self-esteem adalah:

Self-esteem: The level of global positive regard that one has for oneself.

Pria memiliki self-esteem yang lebih tinggi dibandingkan wanita, tetapi perbedaannya tidak begitu signifikan. 

Helping Behavior

Sebuah meta-analisis dari studi perbedaan gender dalam perilaku menolong menunjukkan bahwa pria, secara rata-rata, cenderung untuk menolong orang lain dibandingkan wanita. Hasil ini mungkin mengejutkan mengingat dari Tabel 1 di atas -- dan dari yang kita asumsikan selama ini -- sifat peduli (caring) adalah salah satu stereotip mengenai wanita. 

Hasil ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Alice Eagly dan Maureen Crowley (1986) menguji berbagai situasi yang dapat memunculkan perilaku menolong dari pria dan wanita. Mereka mencatat bahwa beberapa bentuk perilaku menolong merupakan bagian dari peran pria dan beberapa bentuk perilaku menolong lainnya merupakan peran wanita. Perilaku menolong yang bersifat heroik atau bersifat ksatria -- menyelamatkan teman yang terluka dari peperangan -- merupakan peran pria dalam masyarakat, sementara perilaku menolong yang bersifat mengasuh (nurturing) dan merawat (caretaking) ada pada wanita.

Konsisten dengan hasil temuan ini, Eagly dan Crowley (1986) juga menemukan kecenderungan pada pria untuk menolong jika terdapat sebuah ancaman bahaya, misalnya berhenti untuk menolong seseorang yang pecah ban. Kecenderungan untuk menolong semakin meningkat jika perbuatan tersebut disaksikan orang lain. 

Helping that involves danger and that carries with it a crowd of onlookers has great potential for heroism, and that kind of helping is part of the male role.

Anxiety

Sebagian besar studi menunjukkan anak perempuan dan perempuan dewasa lebih takut dan lebih cemas dibandingkan anak laki-laki dan laki-laki dewasa, meski perbedaannya tidak begitu besar.

Androgyny

Di awal tahun 1970an para psikolog feminis mulai mencari sebuah model perilaku manusia yang akan mengatasi stereotip gender. Satu alternatif yang menonjol adalah androgini, yang menggabungkan karakteristik maskulin dan feminin dalam satu individu. Androgini berasal dari bahasa Yunani, yang berakar dari kata andro, berarti pria, dan gyn, berarti wanita. 

Androgyny: The combination of masculine and feminine psychological characteristics in an individual.

Sebagian besar dari kita mengenal orang-orang yang memiliki kualitas feminin dan maskulin. Misalnya, ibu kita yang di rumah begitu telaten mengurus rumah tangga, tetapi di luar beliau adalah seorang pemimpin yang kompeten di perusahaan besar. 

Kita bisa mengukur apakah kita androgini, feminin, maskulin, atau undifferentiated dengan menggunakan alat ukur yang dikembangkan oleh Sandra Bem. Alat ukur ini terdiri dari enam puluh kata sifat atau frasa deskriptif. Responden diminta untuk mengindikasi, untuk setiap item, seberapa tepat kata atau frasa tersebut mendeskripsikan mereka dari skala 1 (tidak atau hampir tidak benar) hingga skala 7 (selalu atau hampir selalu benar). Dari enam puluh item tersebut, terdiri dari dua puluh item bersifat feminin, dua puluh item bersifat maskulin, dan dua puluh item bersifat netral.

Seseorang yang memiliki skor tinggi (di atas median) di kategori feminin dan maskulin masuk ke dalam klasifikasi androgini. Sementara seseorang yang memiliki skor tinggi di feminin, tetapi rendah di maskulin, akan dikategorikan sebagai feminin. Sementara seseorang yang memiliki skor tinggi di maskulin, tetapi rendah di feminin dikategorikan sebagai maskulin. Terakhir, seseorang yang memiliki skor rendah di item feminin dan maskulin, akan dikategorikan sebagai undifferentiated.

Berikut adalah tabel yang berisi contoh kuesioner untuk mengukur androgini yang sudah diadaptasi.


Tabel 3
klik gambar untuk memperbesar



Berhubung alat ukur ini sudah berusia hampir lima puluh tahun, patut dievaluasi kembali apakah item-itemnya masih sesuai dengan definisi maskulinitas dan feminitas sekarang ini. Saya kurang tahu juga apakah sudah ada alat ukur yang terbaru. Jika ada teman-teman yang memiliki informasi mengenai hal ini, tidak ada salahnya untuk memberikan pencerahannya di kolom komentar.

Dengan selesainya kita membahas androgini, maka berakhir sudah rangkuman Bab 3 dari buku The Psychology of Women and Gender. Saya tahu rangkuman ini sangat panjang dan bisa saja teman-teman merasa lelah untuk membacanya. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi usaha kalian dan mengucapkan terima kasih. Semoga teman-teman mendapatkan wawasan baru dari rangkuman ini.

Di bab berikutnya kita akan membahas titik pertemuan antara gender dan etnis. Dari bab tersebut kita akan banyak belajar berbagai isu yang dihadapi orang-orang dengan berbagai gender dan etnis. Akhirul kalam, semoga kalian sabar menanti dan sampai jumpa di bab berikutnya! 

Daftar pustaka:
Else-Quest, N. M, & Hyde, J. S. (2018). The psychology of women and gender: Half the human experience (9th edition). United States of America: SAGE Publications, Inc. 

Tulisan sebelumnya:


Share:

0 comments:

Post a Comment

Saya sangat menantikan komentar dari kalian. Asal jangan spam, jangan anonim, dan tetap sopan ya. Mari kita menghargai satu sama lain. Terima kasih.