Sunday, July 17, 2016

Gara-Gara Bete

Hari ini saya bete. Gara-garanya sepele. Saking sepelenya tidak usah saya ceritakan di sini. Kurang asyik soalnya. Saya mau cerita saja apa yang saya lakukan seharian ini untuk menghilangkan bete.

Kalau sedang kesal atau bete, bawaannya saya ingin menangis. Ini sudah dari sononya. Sungguh. Saya juga tidak tahu kenapa saya ini cengeng banget. Saya tidak bisa melakukan apa-apa kalau untuk yang ini karena ini sudah reaksi otomatis. Palingan yang bisa saya lakukan hanya menahan air mata untuk tidak keluar. Jadi, saya segera ambil kunci motor dan helm. STNK juga tidak lupa saya bawa. Saya langsung pergi ke salah satu mall di Bandar Lampung. Namanya Mall Boemi Kedaton. Anak-anak sini menyingkatnya menjadi MBK.

Sesampainya di MBK, saya langsung ke XXI. Pas sedang antri saya sempat galau mau nonton Rudy Habibie, The Legend of Tarzan, atau Sabtu Bersama Bapak. Mau nonton tiga-tiganya kan jelas tidak mungkin. Akhirnya saya putuskan untuk menonton Sabtu Bersama Bapak. Karena saya ingin menangis ingat bapak saya. Review sudah saya tulis di sini. Silakan dibaca dulu. Hehehe...

[Film] Sabtu Bersama Bapak

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Sutradara: Monti Tiwa
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Skenario: Adhitya Mulya
Pemain: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Acha Septriasa, Deva Mahenra, Sheila Dara Aisha
Production Company: Maxima Pictures
Durasi: 90 menit
Rating: 5/5

Ketika Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mengetahui dirinya mengidap penyakit kanker dan hidupnya tidak lama lagi, dia memutuskan untuk tetap membesarkan anak-anaknya dengan cara yang tidak biasa, yaitu membuat rekaman video. Nantinya video-video tersebut akan ditonton oleh kedua anaknya, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), setiap hari Sabtu. Gunawan berharap meski dia tidak hadir secara fisik di tengah-tengah keluarganya, tapi dia tetap bisa membimbing anak-anaknya agar mereka tidak kehilangan arah.

Satya dan Cakra lalu tumbuh dewasa. Satya sudah menikah dengan Risa (Acha Septriasa) dan dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Rian dan Miku. Mereka tinggal di Paris. Sementara Cakra di usia 30 punya karir bagus di salah satu bank di Jakarta. Keduanya memiliki persoalan sendiri yang menjadi cerita film ini.

Saturday, July 16, 2016

Dalam Seminggu Kemarin

Sejak kecil saya ini susah makan. Ada satu memori sewaktu saya masih kecil yang saya ingat betul. Ceritanya kakak saya menyuruh saya menghabiskan nasi saya. Saya jawab, "Nggak ah. Aku capek makan." Ada juga cerita dari Mama saya. Beliau cerita pernah waktu saya masih kecil saya dikasih makan kan. Mama saya takjub pas lihat piring saya bersih. Beliau kira saya menghabiskan semua nasi yang ada di piring. Memang saya habiskan kok, tapi cuma setengah. Setengahnya lagi saya buang ke kotak sampah. Saya tidak ingat yang ini, tapi ya anggap saja cerita beliau itu benar. Beliau menceritakan ini berulang-ulang. Entah sudah berapa kali. Sepertinya setiap kali kumpul sanak famili Mama pasti cerita ini.

Sampai sekarang saya masih susah makan. Kalau dulu pas masih kecil memang saya bandel tidak mau makan, sekarang saya susah makan karena saya bingung mau makan apa. Apalagi sejak ayah saya sakit saya semakin wawas diri. Saya harus sadar dan tahu diri makanan apa yang masuk ke mulut saya. Kan sudah banyak tuh cerita masih usia muda tapi penyakitnya sudah numpuk. Ya kolesterol tinggi lah, jantung lah, kanker lah, diabetes lah, stroke lah, duh pokoknya ngeri. Mau makan apa-apa jadi takut. Sakit itu mahal, Jendral!

Monday, July 4, 2016

Kisah yang Bikin Senang

Teman-teman semua pasti sudah tahu kalau tingkat self-esteem saya ini rendah. Jaman saya masih sekolah dulu, self-esteem saya kelewatan banget rendahnya. Lah ya bagaimana tidak kalau melihat teman-teman sekolah pada pintar-pintar dan keren-keren, sementara saya? Duh, menyedihkan banget. Nilai pas-pasan. Itupun syukur Alhamdulillah bisa lulus. Tampang yang biasa saja juga tidak membuat saya jadi murid populer. Pokoknya kalau kalian teman sekolah saya, terus kita reunian dan kita bersalaman, pasti kalian pura-pura tersenyum dan bertanya dalam hati, “Ini siapa ya?”

Entah kenapa orang-orang di sekitar saya banyak yang bilang saya ini pintar. Sumpah deh saya ini tidak pintar. Saya sadar diri dengan kemampuan saya yang tidak seberapa ini. Sebenarnya saya juga heran ya. Saya kan tidak pintar, tapi kenapa saya bisa sekolah di tempat yang bagus-bagus ya?

Thursday, June 30, 2016

Social Media and Us

We have to admit nowadays we are so insecure in social media. Why do I say that? Because we do care so much what other people may perceive us. We want to look good, smart, friendly, and other hundreds of positive traits. It doesn’t matter if we portray ourselves as someone that is not us in real life. Bottom line is we’re faking good. We don’t care if it’s a lie. All we care is what people think about us.

We’re faking good because we want to be accepted in this big society called internet. We want to have high influence. We want to be popular. We want to have millions of followers on Twitter, on Instagram, and on Youtube. We, too, want our blog to have millions of readers. Suddenly we crave this kind of attention.